Opini

Tepatkah Pendidikan Multikultural di Indonesia?

Siedoo, Pembahasan mengenai pendidikan tentu tidak ada habisnya. Karena pendidikan merupakan sektor penting dan investasi masa depan Indonesia menuju generasi emas. Tidak terlalu berlebihan jika disebut investasi, karena pendidikan merupakan salah satu pintu menuju pengentasan kemiskinan, penanaman nilai-nilai kebaikan dan ilmu pengetahuan untuk menacapai tujuan bangsa Indonesia.

Bukan sekedar kamuflase tentunya, berbagai bantuan pendidikan dikucurkan untuk membantu anak Indonesia khususnya dari kalangan Pra Sejahtera untuk memperoleh pendidikan tinggi. Besar harapan anak-anak Indonesia kelak menjadi generasi terdidik yang mampu menjadi penggerak Indonesia unggul, hingga turut menyumbang pemikiran besar bagi bangsa Indonesia. Pantaslah jika bangsa Indonesia dengan serius memformulasikan pendidikan terbaik dan sesuai dengan kepribadian bangsa, hal ini menjadi prioritas terpenting.

Masyarakat Indonesia sebagai warga global tentunya ikut serta menyoroti berbagai kejadian di belahan bumi lain, dari isu wabah penyakit hingga dugaan diskriminasi. Contoh munculnya tagar Black Lives Matter. Yaitu sebuah tagar dari gerakan yang memperjuangkan hak asasi manusia, gerakan ini berasal dari sebuah komunitas Afrika-Amerika. Tagar Black Lives Matter muncul kembali akibat adanya  dugaan kasus diskriminasi yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat.

Tampaknya beberapa warga Indonesiapun terpengaruh dengan hal ini dengan ikut serta mengunggah tagar Black Lives Matter di akun sosial media mereka. Pengaruh itu membuktikan bahwa di era digital begitu memudahkan manusia untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar rumah mereka. Sungguh hal ini tidak akan terhalangi oleh adanya pandemi.

Era globalisasi membuat empati masyarakat dunia akan muncul saat dugaan diskriminasi terjadi di belahan bumi lainya. Diskriminasi tentunya bisa menimpa siapa saja dan pada negara manapun. Tidak terkecuali Indonesia, yang terdiri dari masyarakat yang beragam. Upaya untuk mengatasi hal ini adalah dengan pendidikan yang di berikan kepada masyarakat Indonesia sedini mungkin. Karena upaya untuk menyisipkan nilai-nilai baik sangat tepat dilakukan tidak terkecuali di sekolah.

Pendidikan yang dapat menjadikan masyarakat Indonesia menjadi warga yang memiliki karakter demokratis dan pluralis tentunya dapat dikemas dalam sebuah alternatif pendidikan. Pendidikan Indonesia hendaknya diarahkan terhadap penerimaan realitas budaya yang beragam, mengembangkan sikap menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai keberagaman etnis, suku, dan agama.

Bisa dibayangkan jika tidak ada rasa saling menghormati satu sama lain, kebhinekaan ini akan menjadi sumber konflik bangsa. Untuk itu penting kiranya menanamkan kesadaran bahwa perbedaan merupakan keniscayaan, yang seharusnya tidak menjadi penghalang persatuan.

Berbagai upaya tentunya dilakukan bangsa Indonesia, mulai dari kurikulum sampai dengan praktik pendidikan dan pengajaran di kelas. Pendidikan Multikultural disebut sebagai strategi pendidikan yang diharapkan dapat menjadi alternatif dalam memanfaatkan keragaman yang ada pada masyarakat. Dengan maksud membentuk kesadaran siswa untuk menghargai perbedaan.

Namun tidak dapat dimungkiri, jika ditelisik lebih dalam istilah multikultural muncul sejak tahun 1960-an. Yaitu setelah adanya gerakan hak-hak sipil yang mencoba memperjuangankan hak-hak minoritas setelah sekian lama dalam kultur dominan di Amerika khususnya di New York, California dengan mencoba melenyapkan diskriminasi antara kulit hitam dan kulit putih.

James Banks menjelaskan bahwa pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of colour. Yaitu proses pendidikan yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam menentang penindas. Konsep ini masih menjadi kontroversi jika dikaitkan dengan konteks pendidikan di Indonesia.

Indonesia mempunyai konteks keberagaman yang berbeda dengan Amerika Serikat, meskipun jika dilihat keduanya sama sama memiliki multi-kebudayaan. Nilai-nilai pendidikan multikultural berusaha dimasukan ke dalam sistem pendidikan di Indonesia. Karena memang pendidikan Indonesia membutuhkan suatu strategi dalam menanamkan nilai-nilai persatuan ditengah bergam suku, ras, budaya, bahasa, agama, di Indonesia menuju semboyan yang luar biasa “Bhineka Tunggal Ika”.

Sikap terbuka terhadap perbedaan sangat dibutuhkan, yang belakangan disebut sebagai sikap multikultural. Pendidikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik. Multikultural yang dapat dikatakan sebagai multi-budaya meliputi sosial budaya, latar belakang, agama, ras dan perbedaan lainya. Kiranya menjadi konsep harapan dunia pendidikan untuk menghasilkan peserta didik yang penuh pemahaman, dan sikap toleransi yang tinggi.

Kemajemukan Indonesia dipandang sebagai etno budaya, pluralisme ataupun multikultural tampaknya akan jauh lebih bijaksana jika kurikulum pendidikan Indonesia dikemas dengan strategi tepat. Yaitu strategi menuju masyarakat Indonesia yang mencintai keberagaman dan penuh toleransi tanpa diskriminasi. Karena hal ini menjadi tantangan besar bangsa Indonesia, keberagaman dapat menjadi sumber konflik atau justru menjadi kekayaan bangsa yang dapat diperkenalkan ke seluruh dunia.

Konflik internal bangsa dapat menimpa bangsa manapun, akibat perlakuan diskriminatif meskipun menimpa seorang individu. Kekuatan media sosial akan sangat berpengaruh besar terhadap suatu permasalahan. Tidak terkecuali permasalahan diskriminatif yang akan menjadi konsumsi dunia dan memunculkan banyak gerakan mengatasnamakan solidaritas.

Di mana hal itu akan menghasilkan kekacauan seperti yang terjadi di Amerika Serikat tersebut. Untuk itu tentulah Indonesia harus berupaya agar Bhineka Tunggal Ika bukan hanya sebatas menjadi semboyan saja. Maka jelas bahwa pendidikan multukultural menjadi penting dan tepat diterapkan di Indonesia. (*)

 

Aulia Sholichah Iman Nurchotimah, M.Pd
Dosen Pendidikan Kewarganegaraan 
Institut Teknologi Telkom, Purwokerto, Jawa Tengah
Kandidat Doktor Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan 
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Apa Tanggapan Anda ?