Opini

Bergotong Royong Dalam Solidaritas Kemanusiaan di Tengah Pandemi

Siedoo, Sinergitas sosial masyarakat terus gerakkan kepedulian sebagai eksistensi laku kehidupan. Jiwa raga menyatu saling sengkuyung (mendukung) melambangkan arti sebuah usaha bersama menuju kemapanan. Semua anak bangsa harus bahu-membahu melalui tindakan nyata di tengah wabah pandemi Covid-19 yang sedang melanda bumi pertiwi.

Data dari covid19.com sampai tanggal 31 Mei 2020, terdapat 26.473 terpapar Covid-19. Laju kenaikan kasus semakin hari terus bertambah. Usaha kita menekan angka tersebut dengan selalu mengikuti anjuran pemerintah dengan social distancing dan stay at home.

Dampak dari pandemi, pola tatanan masyarakat perlahan mulai berubah dari kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi. Contoh dari segi ekonomi menjadi krusial bagi para pekerja sektor informal disebabkan aktivitas dibatasi terutama dalam mencari nafkah. Hal itu berakibat pendapatan berkurang akhirnya mengalami kebuntuan.

Oleh karena itu, warga bangsa harus menyadari untuk saling membantu, tolong-menolong dan bekerjasama. Semangat collective and willingness to become a strong nation perlu digelorakan. Dengan semangat bergotong-royong akan saling menguatkan sesama.

Solidaritas Kemanusiaan

Bangsa Indonesia terkenal memiliki budaya santun, guyup-rukun dan gotong-royong, namun kini mulai terkikis efek globalisasi. Oleh karena itu, generasi muda harus mempunyai semangat nasionalisme-patriotisme agar tidak mudah tergerus globalisasi dan teknologi.

Tradisi budaya Indonesia perlu dilestarikan, pembudayaan Pancasila ditanamkan serta pentingnya menghargai dan menghormati sesama. Manusia, warga bangsa, dan alam semesta merupakan tiga hal yang saling berhubungan erat dan tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Karena manusia diciptakan Allah sebagai khalifah fil Ardhi di alam  semesta, tetapi manusia tidak akan mampu hidup sendiri.

Uluran tangan dengan tulus ikhlas bisa mengurangi beban pikir saudara kita yang membutuhkan. Bahu-membahu dan bekerjasama terlihat arti persatuan dalam kebersamaan demi ketahanan.

Beberapa contoh implementasi masyarakat dalam gotong-royong adalah konsep ‘Jogo Tonggo yang digagas oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dengan maksud agar ketahanan pangan di Jawa Tengah aman, tujuannya adalah bergotong-royong dan berbagi bersama secara mandiri. Sedangkan di Mlati Sleman, DIY para warga Sumberadi memberikan sayuran secara bergantian kepada warga yang tidak mampu. Hal ini sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan bagi warga masyarakat terdampak pandemi Covid-19.

Pentingnya Gotong Royong

Tema peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020 ini ialah tindakan gotong-royong membawa kemajuan agar warga bangsa berdikari di tengah pandemi. Seperti dilansir detik.com (27/5/2020) Peringatan Bulan Bung Karno di tengah Covid-19 untuk menggelorakan semangat berdiri di atas kaki sendiri. Dari pandemi ini bangsa Indonesia diingatkan bagaimana setidaknya Indonesia harus berdikari sekurang-kurangnya di bidang pangan, kesehatan, energi, keuangan, pertahanan, dan keamanan.

Dengan gotong-royong menjadikan warga bangsa untuk bersikap saling mencintai, rasa tepa selira kepada tetangga, masyarakat dan bangsa untuk saling mengasihi dan berbagi bersama di tengah keterpurukan dan kesulitan. Praktik berpancasila di tengah pandemi perlu diamalkan dan dijalankan dengan nyata. Oleh karena itu, bergotong-royong sebagai solidaritas kemanusiaan perlu dipraktikkan dan dijadikan pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama kepada generasi muda penerus bangsa. (*)

Sukron Mazid, S.Pd., M.Pd.
Pemerhati Pendidikan, Sosial, dan Budaya
Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNTIDAR dan UNSIQ
Apa Tanggapan Anda ?