Opini

Penting, Edukasi Kesetaraan Gender Pada Anak di Tengah Pendemi Covid-19

Siedoo, Penyebaran pendemi Covid-19 memaksa siswa untuk melakukan Belajar di Rumah, mereka kehilangan berbagai suasana yang biasa mereka temui di sekolah. Namun, kondisi ini bukan berarti siwa kehilangan kesempatan untuk belajar berbagai hal yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang baik, di luar materi yang diajarkan atau ditugaskan.

Edukasi mengenai kesetaraan gender penting sebagai dasar pengetahuan bagi setiap anak baik laki-laki maupun perempuan. Karena setiap manusia memiliki harkat dan derajat yang sama tanpa dibedakan oleh apaun termasuk jenis kelamin.

Secara jelas dinyatakan dalam dasar negara Indonesia yakni Pancasila sila kedua bahwa “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Di mana setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia. Tanpa dibedakan atas dasar apapun, termasuk atas dasar jenis kelamin atau gender.

Kesetaraan gender menjadi salah satu pemahaman dasar yang harus dimiliki setiap anak sebagai bekal dalam menentukan kehidupan di masa depan. Kesetaraan gender sebagai suatu kondisi yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. Sehingga dapat berperan dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan baik politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamaan, serta memiliki kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan (KPPA, 2019:2).

Oleh karena itu, pendidikan kesetaraan gender sejak usia dini menjadi hal yang penting dilakukan. Meskipun saat ini, relasi antara laki-laki dan perempuan “tampak” setara dan hal ini ditunjang oleh instrumentasi perundang-undangan yang kesetaraan gender. Namun dalam realitas kehidupan dimasyarakat, pemisahan peran gender masih berlangsung dalam berbagai bidang kehidupan.

Keluarga sebagai institusi sosial pertama yang berperan dalam pendidikan anak.  Di mana dalam keluarga, anak-anak dikenalkan nilai-nilai, norma yang dijunjung tinggi serta bagaimana nilai serta norma tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, memberikan kesempatan lebih besar dalam mengedukasi anak-anak akan kesetaraan gender tidak hanya melalui kata-kata namun ditunjukan dalam contoh dan tindakan.

Sebelumnya, ayah dan ibu melakukan kegiatan sesuai dengan peran yang sudah “mapan” dalam kehidupan sehari-hari, namun pendemi Covid-19 yang memaksa untuk setiap orang beraktivitas di rumah memberikan  gambaran yang berbeda. Ibu dapat berbagi peran dengan ayah dalam menjaga anak maupun melakukan kegiatan rumah seperti mencuci baju, mencuci piring, atau memasak.

Suatu gambaran yang mungkin anak-anak jarang temukan sebelumnya. Edukasi akan kesetaraan gender pada anak dapat dilakukan melalui pembagian tugas pada anak-anaknya yang tidak hanya berdasarkan jenis kelamin. Bentuk edukasi lain dapat dilakukan orang tua di tengah pendemi Covid19 yakni melalui tontonan.

Kesibukan ayah dan ibu yang selama ini membuat anak-anak sering kali “dibiarkan” untuk menonton tayangan yang kurang tepat untuk mereka. Dengan adanya waktu yang lebih banyak di rumah, sebaiknya orang tua mendampingi anak dalam memilih dan menonton tayangan sesuai usia mereka. Tayangan yang memberikan gambaran tentang kesetaraan gender, seperti program televisi atau film keluarga.

Selama menonton, orang tua dapat sambil memberikan penjelasan mengenai posisi setara antara laki-laki dan perempuan sebagai sesama manusia. Yang  membedakan mereka hanya yang bersifat alamiah atau secara kodrati melekat pada perempuan. Di luar itu, laki-laki dan perempuan memiliki hak, kewajiban, tanggung jawab, kesempatan maupun peran yang sama.

Pilihan lain dalam mengedukasi kesetaraan gender pada anak yang dapat dilakukan melalui bacaan. Pilihkan dan dampingi anak dalam membaca berbagai buku cerita yang memberikan gambaran kesetaraan gender.

Kondisi pendemi Covid-19 tentu berat bagi anak, karena mereka kehilangan banyak momen berharga untuk mengisi waktu mereka berbagi pengalaman dengan teman seusianya. Namun, bukan berbarti tinggal di rumah menjadi kondisi yang membosankan. Justru, saat ini lebih banyak waktu untuk mempelajari banyak hal baru bersama dengan orangtua, termasuk belajar memahami kesetaraan gender. (*)

Nunung Nurjanah, S.Sos, M.Pd
Dosen STKIP Pangeran Dharma Kusuma, Indramayu
Kandidat Doktor Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Apa Tanggapan Anda ?