Opini

Pentingnya Edukasi dan Pemahaman Tentang Bahaya Covid-19

Siedoo, Banyaknya tagar #indonesiaterserah baik di twitter maupun youtube, sesungguhnya merefleksikan kekecewaan para tenaga kesehatan (Nakes) terhadap kebijakan pemerintah yang agak melonggarkan PSBB terutama di bidang trasportasi. Kekecewaan terus mengakumulasi dengan banyaknya masyarakat yang acuh terhadap PSBB dan protokol kesehatan.

Para petugas kesehatan yang berjuang berbulan-bulan, dan masyarakat yang rela bertapa di rumah saja, seolah dilukai dengan banyaknya kerumunan orang. Seperti di bandara, di pasar, di mal, dan di tempat lainnya. Bahkan BUMN segera mewajibkan seluruh karyawan 45 tahun ke bawah untuk masuk kantor, yang tentu akan diikuti oleh seluruh sektor swasta.

Padahal, hingga saat ini, penyebaran virus Corona semakin meluas dan sulit sekali untuk diputus penyebarannya.  Karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan.

Pentingnya Edukasi         

Pemahaman mayoritas masyarakat kelas bawah yang menganggap enteng risiko virus Corona, telah mengakibatkan penyebaran virus tersebut menjadi tidak terbendung. Akibatnya, terjadi kerentanan ekonomi dan kerentanan lainnya. Jadi, rendahnya persepsi risiko yang dimiliki mayoritas masyarakat kelas bawah telah terjadi sebagai mata rantai mulus bagi penyebaran virus Corona.

Anehnya lagi, rendahnya persepsi terhadap risiko terkonstruksi secara seragam dalam jumlah sangat banyak. Kondisi buruk seperti itulah yang menyebabkan jumlah pasien Covid-19 menjadi semakin bertambah dalam setiap harinya. Seiring dengan meningkatnya kerentanan fisik yang dimiliki masyarakat itu sendiri

Homogenitas rendahnya persepsi risiko terpapar virus Corona juga terjadi bukan hanya karena terbatasnya kemampuan dalam menerjemahkan besarnya risiko, tetapi juga karena adanya unsur kesengajaan di tengah himpitan ekonomi yang melingkupi rumah tangganya.

Norma budaya kebersamaan yang masih sangat kental juga memberi andil yang besar dalam proses penyebaran virus Corona. Suasana yang buruk tersebut menjadi semakin sulit diatasi, karena karakteristik geografis Indonesia yang sangat bervariasi, apalagi pada daerah terdepan, terluar, dan terbelakang (3T).

Sebelum hal itu terjadi, marilah kita bersama-sama melakukan edukasi diri agar mempunyai persepsi yang sama akan bahaya besar wabah Corona. Jangan sampai pemerintah membuat kebijakan yang blunder yang membuat penyebaran virus Corona semakin meluas.

Penyelesaian Wabah dan Penanganan Kemiskinan

Sifat bencana yang sangat unik dan belum pernah terjadi sebelumnya, telah memporakporandakan ekonomi, tatanan sosial, cara peribadatan, pola pencaharian nafkah, dan berbagai sendi kehidupan lainnya. Kompleksitas kehancuran itulah yang menyebabkan proses penanganan terhadap wabah virus Corona menjadi sangat sulit. Termasuk proses menangani imbasnya, seperti kemiskinan, pengangguran, dan keresahan sosial lainnya.

Berbagai upaya mengatasi kerentanan telah dilakukan dengan mengidentifikasi daerah-daerah yang paling rentan dan memetakan dimensi sosial mana yang menjadi pendorong utama. Upaya mengidentifikasi komplesitas dampak bencana yang multidimensional terus dilakukan.

Setelah mengatahui dampak yang paling urgen untuk diatasi, langkah selanjutnya adalah memilih metode yang paling cocok untuk diterapkan dalam pengambilan keputusan. Baik berkaitan dengan alokasi sumber daya maupun prioritas penanganan wabah Corona itu sendiri.

Konstruksi Ketahanan Dalam Konteks Kesulitan Ekonomi

Konstruksi ketahanan sangat berkaitan dengan ketahanan individu terhadap meluasnya wabah. Kemiskinan informasi dan rendahnya kesadaran terhadap penyebaran virus Corona akan menyebabkan rapuhnya konstruksi ketahanan. Apalagi, konstruksi itu tidak ditopang oleh kondisi sosial ekonomi yang kokoh, maka sudah dapat dipastikan dampak penyebaran virus Corona menjadi semakin parah.

Konstruksi ketahanan sosial dan ekonomi merupakan atribut atas realitas yang melingkupi. Individu yang hidup dalam ekonomi menengah ke bawah akan langsung terjun bebas menjadi miskin. Dengan kata lain, virus Corona laksana agen transformatif yang langsung memiskinkan masyarakat. Masyarakat yang pada awalnya mulai bergerak naik status sosial ekonominya, kini kembali pada posisi semula.

Namun, semua itu tidak menjadi masalah manakala wabah virus Corona segera berakhir. Hal yang sangat dikhawatirkan adalah, manakala penyebaran virus itu berlangsung lama, maka tingkat keterpurukan ekonomi menjadi semakin parah, dan semakin lama juga proses recovery yang harus dilakukan nanti.

Oleh karena itu, sudah saatnya apabila the role of social protection yang sudah dianjurkan oleh pemerintah sesuai dengan protocol WHO dapat kita terapkan secara ketat. mulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar kita, hingga lingkup negara. Semoga! (*)

Dr. Basrowi
Pengamat Kebijakan Publik
Alumni PPs UIN Raden Intan Lampung
S3 Unair Surabaya, dan S3 UPI YAI Jakarta
Apa Tanggapan Anda ?