Tokoh

Cut Sarah, M.Psi: Lawan Pandemi Covid-19 Dengan Sedekah

Siedoo, Dalam Alquran disebutkan, ”Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi hidayah.” (QS. At-Taghabun:11)

Hal itu disebut pula dalam seminar online “Cara Menghadapi Pandemi Covid-19: Aspek Spritual dan Emosional”  Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Seminar digelar via aplikasi video confrence, (15/5/2020).

Seminar yang digelar Tim UMSU Peduli Covid-19 dan Fakultas Kedokteran juga menghadirkan Cut Sarah M.Psi selaku psikolog dengan topik “Dampak Psikologi dan Cara Menghadapi Pandemi Covid-19″. Kegiatan seminar ini diikuti oleh mahasiswa fakultas kedokteran dan civitas akademika UMSU, kalangan medis dan kesehatan serta masyarakat umum. (umsu.ac.id, 16/5/2020)

Pandemi Covid-19 ini adalah ciptaan Allah yang dihadirkan sebagai ujian dan cobaan bagi kita semua. Hadirnya pandemi ini seketika mengubah pandangan kita yang selama ini mempertuhankan dunia dengan sekejap mata. Kita menyadari sejatinya semua yang ada di dunia tidak ada artinya di sisi Allah melainkan hanya keimanan dan ketaqwaanlah yang paling utama.

Pandemi Covid-19 ini bisa jadi cobaan bisa juga rahmat bagi Umat Islam yang diberikan oleh Allah SWT. Maka masa pandemi ini bisa dipandang sebagai perjuangan yang sangat luar biasa. Apabila kita sabar dan berpasrah diri dengan keimanan dan ketaqwaan niscaya ada balasan pahala dari Allah SWT caranya dengan perbanyak bertasbih dan mengingat Allah.

Perubahan Aspek Kehidupan

Dalam perspektif psikologi, Cut Sarah, menjelaskan respon masyarakat terhadap Covid-19 sangat beragam, ada yang cuek seperti tidak ada kejadian, menganggap sepele, stres, takut, bahkan sampai ketahap depresi. Begitupun terhadap psikologis yang dirasakan masyarakat dikarenakan adanya perubahan dari segi aspek kehidupan.

“Ketidakpastian akhir dari pandemi, kecemasan yang berlebihan, depresi dan pemikiran-pemikiran negatif lainnya yang timbul dan mempengaruhi fikiran,” ujarnya.

Dalam menghadapi pandemi ini menurut Cut, masyarakat harus memiliki resilensi yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan teguh dalam situasi sulit. Adapun faktor penentu resiliensi di antaranya faktor biologi, self-awareness, self-regulation, mental agility, optimis, self-efficacy, connection, dan positive institutions. Selain itu kita harus yakin pada character strengths yang dimiliki sehingga dapat digunakan untuk mengatasi tantangan, menciptakan emosi positif.

“Sehingga mampu melihat, mencari solusi dan menyelesaikan permasalahan dan membangun hubungan yang lebih kuat antarsesama,” lanjutnya.

Orang yang optimis memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi saat pandemi dengan jiwa optimis. Yaitu sebaiknya kita tidak terlalu keras dengan diri sendiri, temukan kesenangan dari hal-hal kecil di sekitar.

“Membuat catatan hal-hal apa saja yang patut disyukuri, memahami bahwa pandemi ini pasti ada hikmah tersendiri, berbuat baik dan menolong sesama, dan jangan suka berfikir negatif namun jangan juga terlalu over positif,” ujar Cut Sarah. (*)

Apa Tanggapan Anda ?