Daerah Kegiatan

Bantu Atasi Kelangkaan, FK Universitas Brawijaya Produksi VTM Mandiri

MALANG – Dibutuhkan sampel usap hidung dan tenggorok untuk dapat menegakkan diagnosa positif Covid-19. Kemudian sampel tersebut disimpan dalam sebuah wadah yang disebut Viral Transport Medium (VTM). Wadah ini yang kemudian akan menjaga virus tetap hidup hingga dilakukannya tahap pemeriksaaan laboratorium.

Beberapa waktu lalu di pasaran, ketersediaan VTM sempat langka. Hal itu, selain karena banyaknya permintaan, kapasitas produksinya pun terbatas hingga harga melambung cukup tinggi. Untuk mengatasi kelangkaan VTM di wilayah Malang Raya, Universitas Brawijaya melalui Fakultas Kedokteran telah berhasil  memproduksi VTM secara mandiri. Produksi VTM ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi secara mandiri.

Menurut Kepala Laboraotorium Mikrobiologi FK UB, Dr. dr. Dwi Yuni Nur Hidayati, M.Kes, UB telah memproduksi lebih dari 1000 VTM. VTM ini sendiri digunakan oleh beberapa rumah sakit di Kota Malang, di antaranya RSU Dr. Saiful Anwar, dan RS Universitas Brawijaya.

“Total kita sudah berhasil memproduksi 1500 VTM. Untuk Satgas Covid-19 UB sendiri sudah mencapai 500 tube,” jelasnya di laman ub.ac.id (15/5/2020).

Saat ini, analis yang membuat VTM sedang diperbantukan di RSUB untuk pengerjaan lab uji swab Covid-19. Pengambilan sampel sendiri dilakukan dengan menggunakan aplikator berbahan dakron atau rayon. Bentuknya hampir seperti cotton bud. Sampel ini  kemudian dimasukkan ke dalam VTM dan disimpan di lemari pendingin.

“Sampai waktu pengujian laboratorium dengan menggunakan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT PCR),” jelas dr. Dwi.

Proses pembuatan VTM sendiri cukup singkat. Dalam waktu 2 hari, Lab Mikrobiologi sudah berhasil memproduksi VTM termasuk sterilisasai bahan hingga siap digunakan. Untuk uji swab sendiri, RSUB sudah mulai beroperasi sejak awal minggu ini. Ketersediaan VTM dan RT PCR di RSUB akan memudahkan pemeriksaan sehingga hasil yang didapat juga lebih cepat.

Menurut Humas RSUB, M. Jauhar Efandry, RSUB telah mulai melakukan pemeriksaan sampel swab dari RS rujukan di Malang Raya. RSUB telah menerima lebih dari 100 sampel dan hanya menerima kiriman sampel dari rumah sakit lain dengan pengantar dari Dinas Kesehatan (Dinkes).

“Hasil RT PCR akan langsung diserahkan kembali ke Dinkes,” ujarnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?