Daerah Inovasi

Mudahkan Belajar Perkalian dan Pembagian, Mahasiswa UNY Ciptakan Media Andalan

YOGYAKARTA – Sering dianggap sebagai momok oleh sejumlah siswa, lantaran mata pelajaran Matematika dirasa sulit, susah, dan membuat pusing. Namun sebenarnya, Matematika akan sangat menyenangkan jika dipelajari dengan sebagaimana mestinya. Matematika diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, hal ini menunjukkan betapa pentingnya Matematika dalam ranah akademik.

Pada beberapa Sekolah Dasar  (SD) masih ada siswa yang ketinggalan dalam menangkap bahasan materi perkalian dan pembagian. Sehingga dibutuhkan sebuah media yang mampu membantu dan memperlancar proses pembelajaran.

Pembelajaran yang ditekankan pada konsep-konsep Matematika. Yaitu penanaman konsep dasar dapat dilakukan dengan jembatan yang menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep Matematika yang abstrak. Maka dalam kegiatan pembelajaran konsep dasar ini, media atau alat peraga diharapkan dapat digunakan dalam membantu kemampuan pola pikir siswa, pemahaman konsep, dan pembinaan keterampilan.

Media Andalan

Media Andalan memudahkan siswa dalam memperlajari perkalian dan pembagian. (foto Humas UNY)

Proses belajar menghitung adalah suatu kegiatan yang menarik jika dilakukan dalam suasana bermain. Berawal dari keprihatinan ini sekelompok mahasiswa program studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membantu guru kelas 2 SD dalam mengajarkan perkalian dan pembagian. Yaitu dengan menggunakan media perkalian dan pembagian dalam bentuk buah-buahan yang dinamakan Media Andalan. Mereka adalah Sri Maya Januar Siamti, Hani Widya Putri dan Ar-Royan Zainul Akbar.

Menurut Sri Maya Januar Siamti media ini dirancang untuk membantu siswa dalam memahami konsep dasar perkalian dan pembagian pada mata pelajaran matematika. Peran media Andalan diharapkan dapat memberi pemahaman siswa secara menyeluruh pada sub-bab perkalian dan pembagian.

“Sehingga dapat melanjutkan pembahasan sub-bab berikutnya tanpa ada masalah pada perkalian dan pembagian” katanya.

Hani Widya Putri menambahkan, media Andalan ini menjadi salah satu solusi di  mana media ini bisa digunakan untuk memecahkan masalah perkalian dan pembagian. Yaitu dengan cara memperagakan tentang bagaimana suatu bilangan itu dikali atau dibagi.

“Sehingga siswa diharapkan dapat mengetahui secara pasti atau konkretnya mengenai asal mula terhitungnya hasil dari suatu perkalian dan pembagian itu,” tambah Hani.

Sedangkan menurut Royan Zainul Akbar, media Andalan merupakan media pembelajaran perkalian dan pembagian berbentuk permainan tazos yang dilengkapi kartu soal dan buku panduan guru.

“Terdapat dua jenis bentuk tazos yang dikemas dalam buah-buahan yaitu buah semangka dan buah jeruk,” papar Royan.

Masing-masing jenis buah terdapat empat puluh keping tazos. Tazos dicetak menggunakan bahan mika seperti bahan KTP/SIM atau sejenisnya. Setelah dicetak, tazos dipotong dan dihaluskan agar media yang akan digunakan aman untuk anak-anak. Selain itu media Andalan ini juga dilengkapi dengan kemasan yang dibuat dengan kain flanel dan dibentuk sesuai dengan jenis tazos masing-masing.

Pembelajaran Discovery Learning

Sri Maya menjelaskan, karya yang meraih dana penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan UNY ini telah diujicobakan di SD Negeri 1 Prambanan dengan hasil Baik. Menurutnya, konsep pembelajaran Media Andalan dapat diartikan sebagai suatu cara yang digunakan guru dalam model pembelajaran discovery  learning. Yaitu pembelajaran yang menekankan pada pengalaman langsung dan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu. Bila ditinjau dari segi kurikulum, media Andalan secara akurat mengacu pada mata pelajaran Matematika kelas 2 SD bertema ‘Bermain di Lingkunganku’.

Secara prosedural, media Andalan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran kelompok atau pun individu. Adapun langkah-langkah agar media ini mendorong keaktifan siswa, pertama kali guru menyiapkan media andalan dan membagikan kepada siswa. Kemudian disampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

“Lalu guru menjelaskan materi dan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok,” papar Sri Maya.

Berikutnya, guru menginstrusikan untuk membuka kartu yang telah diacak sebelumnya. Kemudian siswa bekerjasama menyusun tazos sejumlah jawaban dari kartu soal yang didapatkan. Guru memberi pengarahan, baik membenarkan atau mengoreksi hasil kesimpulan dari masing-masing kelompok. Terakhir, menghitung perolehan poin dari tiap-tiap kelompok, menjumlahkannya dan mengumumkannya.

“Sebagai motivasi, guru dapat memberikan penghargaan pada kelompok yang mendapat poin terbanyak,” pungkas Sri Maya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?