Tokoh

Rektor UNS: Inilah Tantangan dan Peluang Kuliah Daring

Siedoo, Saat ini seluruh mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia melaksanakan kebijakan pembelajaran jarak jauh atau belajar di rumah. Kebijakan telah berjalan hampir dua bulan. Rencana perkuliahan secara daring sebenarnya telah dicanangkan sejak Prof. Mohamad Nasir masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

Menurut rencana awal, diharapkan pembelajaran secara daring bisa terlaksana sampai 30% di masing-masing universitas. Namun keadaan saat ini membuat rencana tersebut 100% telah dilaksanakan oleh semua universitas di Indonesia.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Jamal Wiwoho ketika menjadi pembicara dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Aliansi Mahasiswa Pendidikan Mulawarman, Sabtu (9/5/2020).

Selain Prof. Jamal, hadir sebagai pembicara dari tuan rumah, Harry Setya Nugraha, S.H., M.H. selaku dosen fakultas hukum Universitas Mulawarman. Agenda tersebut mengangkat tema “Kuliah Daring Sebagai Tantangan Ataukah Peluang?”.

Pada kesempatan tersebut Prof. Jamal menjelaskan bahwa disrupsi pelayanan tridarma perguruan tinggi terjadi di masa krisis Covid-19 ini. Beberapa kebijakan diambil oleh UNS untuk tetap menjalankan tri dharma perguruan tinggi dengan melakukan penjadwalan ulang terhadap pelaksanaan kegiatan universitas. Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dilaksanakan secara daring, mulai dari pembelajaran sampai dengan proses wisuda dilakukan secara online.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) ini menjelaskan bahwa kuliah daring bisa dilaksanakan secara sinkronus, misalnya dengan Zoom Cloud Meeting dan ansinkronus misalnya dengan WAG, Spada, Open CourseWare, Email, SMS broadcast, dan sebagainya sehingga beban pulsa atau quotanya tidak begitu mahal.

“Kuliah daring dengan sistem tersebut dapat memberi tiga manfaat yakni bisa berjalan efektif-efisien, bisa terdokumentasi dengan baik, dan tetap terpenuhinya jam belajar sesuai ketentuan,” tutur Prof. Jamal.

Selanjutnya, berupa pelaksanaan penelitian dan pengembangan UNS menjadikan Rumah Sakit milik universitas sebagai pusat penelitian Covid-19. Serta pengabdian masyarakat tetap dilaksanakan dengan melakukan KKN Tematik Covid-19 yang dilakukan secara daring oleh mahasiswa UNS.

“Penjadwalan ulang KKN juga dilakukan, yang biasa dilaksanakan bulan Agustus, diajukan menjadi akhir bulan April sampai Mei 2020,” ujarnya.

Prof. Jamal menandaskan, kuliah daring memang tidak sesempurna perkuliahan di kelas secara langsung. Pelaksanaannya memerlukan kombinasi yang baik antara fasilitas yang digunakan serta kemampuan dari sumber daya manusianya. Kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi saat ini penting untuk diperhatikan.

Seperti contohnya, dosen maupun mahasiswa diharapkan bisa menyesuaikan dengan perkembangan sistem teknologi yang digunakan dalam pelaksanaan kelas online dengan berbagai aplikasi.

“Kuliah daring memang belum sebaik dengan sistem kuliah di kelas. Namun dalam keadaan seperti ini, roda tridarma perguruan tinggi tetap harus berjalan,” tandasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?