Nasional

Siswa Belajar di Rumah, 51 Aduan Masuk ke KPAI

JAKARTA - Sepekan diberlakukannya sistem belajar di rumah mendapatkan berbagai aduan tentang beratnya tugas dan PR  yang di terima siswa. Di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang pembelajaran dari rumah bagi siswa, ada 51 aduan yang masuk dan mengeluhkan beratnya tugas yang diberikan guru. Aduannya, banyak tugas yang mesti dikerjakan dengan tenggat waktu yang sempit.

"KPAI sudah menerima 51 pengaduan sejumlah siswa dari berbagai daerah yang mengeluhkan beratnya penugasan dari para guru yang harus dikerjakan dengan deadline yang sempit. Padahal banyak tugas yang harus dikerjakan segera juga dari guru mata pelajaran yang lain," kata Retno Listyarti selaku Komisioner KPAI Bidang Pendidikan dilansir dari liputan6.com.

Karena itu, pihaknya mendorong para pemangku kepentingan di pendidikan membangun rambu-rambu untuk para guru sehingga proses belajar dari rumahini bisa berjalan dengan menyenangkan dan bermakna buat semua.

Dan, lanjut dia, bukan malah jadi beban yang justru tidak berpihak pada anak, bahkan bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya.

Sementara itu dilansir dari jpnn.com, Anggota Komisi X FPKB DPR RI Hj Lathifah Shohib mengkritisi realisasi kebijakan proses belajar di rumah. Ia menilai belajar mengajar dengan metode daring ustru membuat anak didik makin stres.

"Anak didik tidak siap dengan pekerjaan rumah yang banyak, sekaligus rumit, Itu membuat stres anak didik, begitu pun dengan orang tuanya," kata Lathifah Shohib.

Anggota FPKB dapil Malang Raya ini mengatakan, alih-alih menjadi solusi pembelajaran di tengah pandemi corona malah membuat psikologis anak didik terganggu.

“Sudahlah, para pendidik jangan berikan tugas yang membebani psikis anak didik. Mereka sudah stres, belum lagi dalam situasi parno corona," ujarnya.

Menurut Lathifah, kemampuan para siswa dalam kepemilikan dan penggunaan gadget maupun kemampuan ilmu beragam.

“Setiap anak tidak bisa kita seragamkan kemampuannya menerima tugas, pasti banyak terjadi gagal paham dan akhirnya guru juga yang pusing,” jelasnya.

Dikutip dari pikiranrakyat.com, Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) wilayah Jawa Barat Iwan Hermawan mengusulkan, agar tugas siswa saat belajar di rumah menitikberatkan pada literasi sehingga hasilnya dalam bentuk resensi buku.

Cara itu lebih menyenangkan bagi siswa dan dapat menghidari siswa dari stress karena tugas yang menumpuk.

"Cukup satu minggu satu buku. Nanti mata pelajaran lain bergantian (pada minggu berikutnya)," katanya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?