Categories: Nasional

Berikut Lima Payung Hukum Kebijakan Kampus Merdeka

Share

JAKARTA – Ada lima Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) sebagai payung hukum dari implementasi empat kebijakan baru Kemendikbud bidang pendidikan tinggi atau Kampus Merdeka. Kelima hal itu adalah :

1. Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi

2. Permendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Perubahan Perguruan Tinggi Negeri menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum

3. Permendikbud Nomor 5 tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi

4. Permendikbud Nomor 6 tahun 2020 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tingggi Negeri

5. Permendikbud Nomor 7 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri dan Pendirian, Perubahan dan Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam mengatakan, ada empat kebijakan penting dalam Kampus Merdeka. Yaitu, Pembukaan Program Studi Baru, Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi Badan Hukum dan Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi yang setiap kebijakannya memiliki payung hukum masing-masing.

“Kebijakan Pembukaan Program Studi Baru diatur dalam Permendikbud Nomor 5 dan 7. Kebijakan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi diatur dalam Permendikbud Nomor 5. Perguruan Tinggi Badan Hukum pada Permendikbud Nomor 4 dan 6 serta Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi dipayungi Permendikbud Nomor 3," jelas Nizam.

Dikatakan, Kemendikbud memahami bahwa perguruan tinggi di Indonesia dengan jumlah lebih dari 4.500 kampus memiliki karakteristik berbeda. Dan, juga memiliki tingkat kesiapan yang berbeda dalam menerapkan kebijakan Kampus Merdeka ini. Karena itu, kebijakan Kampus Merdeka tidak akan bersifat paksaan yang akhirnya menjadi sekedar formalitas belaka.

Ditjen Pendidikan Tinggi akan menyiapkan rambu-rambu petunjuk teknis pelaksanaan kebijakan Kampus Merdeka, untuk kemudian setiap kampus dapat mempelajarinya dan menyesuaikannya dengan dengan kondisi kampus masing-masing.

“Inomorvasi dan kreativitas pengelola perguruan tinggi menjadi penting dalam penerapan kebijakan Kampus Merdeka ini. Pertukaran mahasiswa yang biasanya sering dilakukan dengan kampus di luar negeri. Saat ini juga didorong juga dilakukan antar perguruan tinggi dalam negeri. Pertukaran Mahasiswa UI dengan mahasiswa UNIPA misalkan, hal ini juga dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme,” tutur Nizam.

Nizam mengungkapkan dalam implementasi kebijakan Kampus Merdeka membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak mulai dari civitas akademika, kementerian lain hingga dunia industri. Kerja sama penerapan program Kampus Merdeka akan segera dijalin dengan Kementerian Pembangunan Desa dan Transmigrasi (PDT) dengan tema Kampus Merdeka untuk Desa.

"Mahasiswa yang melakukan pengabdian kepada masyarakat ataupun mengajar di daerah terpencil akan dihitung ke dalam sks perkuliahan. Mahasiswa akan diminta partisipasinya dalam membangun desa dan mengawal implementasi Dana Desa," ungkapnya.

Dalam kerja sama dengan dunia industri juga, Nizam mengatakan akan semakin ditingkatkan agar “link and match” antara perguruan tinggi dengan dunia industri akan semakin baik. Dengan kebijakan baru, mahasiswa memiliki kesempatan untuk magang di dunia industri dengan jangka waktu lebih lama, maksimal tiga semester.

Menurut Nizam kebijakan ini akan saling menguntungkan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Perlindungan terhadap mahasiswa magang juga akan menjadi perhatian Kemendikbud, agar mendapatkan hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Dengan durasi magang lebih lama, mahasiswa dapat memperoleh kompetensi lebih baik di perusahaan. Dunia industri juga mendapatkan manfaat lebih, karena mahasiswa magang akan mendapatkan waktu cukup untuk memahami suatu pekerjaan,” katanya.

Dijelaskan, mahasiswa magang dengan kompetensi baik, tentu akan menjadi kandidat pertama ketika perusahaan tersebut melakukan rekrutmen pegawai. Dosen pendamping magang juga dapat memperbaharui bahan ajar sesuai dengan perkembangan kebutuhan dunia industri dan masyarakat. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
M Nur Ali

Recent Posts

Pengajian di Rumah Siswa, Bentuk Penyegaran Rohani Sekaligus Silaturahmi

MAGELANG – SMK Islam Terpadu (IT) Maarif Kota Magelang, Jawa Tengah menggelar pengajian kelas rutin bulanan di kediaman siswa. Pada…

43 menit yang lalu

Bersiap Hadapi UNBK, Siswa MA Al-Iman Gelar Doa Bersama di Ponpes Assegafiyah

MAGELANG – Menjelang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang tinggal hitungan hari lagi, seluruh guru siswa kelas XII Madrasah Aliyah…

16 jam yang lalu

Jangan Lupa Finalisasi, Pendaftaran SNMPTN Ditutup Besok

JAKARTA - Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2020 dibuka sejak Jumat (14/2/2020) pukul 14.00 WIB dan akan…

17 jam yang lalu

Ternyata Belajar di Alam Bebas Membantu Perkembangan Anak

Siedoo, Secara umum banyak orang tua merasa khawatir apabila anak-anak balitanya bermain di luar ruangan. Para orang tua masih khawatir…

17 jam yang lalu

Cegah Bahasa Daerah Punah, Badan Bahasa Punya 5 Program Utama

JAKARTA - Berdasarkan data dari UNESCO dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2020, secara global 40 persen populasi di dunia…

18 jam yang lalu

Kami Marah, Tapi Guru jangan Dibegitukan

Siedoo, Peristiwa duka yang menimpa siswa siswi SMP N 1 Turi Sleman Yogyakarta membuat marah semua pihak. Kejadian susur sungai…

23 jam yang lalu