Opini

Pentingnya Kedepankan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Budaya di Kota Magelang

Siedoo, Kebudayaan sebagai hasil budi manusia dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia. Kebudayaan dalam berbagai bentuk dan menifestasinya tidaklah kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah. Serta, mampu membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman tradisional untuk memasuki zaman modern.

Manusia sebagai mahluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahan-perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis, manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju.

Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup filsafat, kesenian, kesusastraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. Kesemuanya penting untuk menjadi materi pendidikan di setiap sekolah. Demikian pula untuk sekolah-sekolah di Kota Magelang Jawa Tengah.

Lestarikan Kearifan Lokal

Kota Magelang memiliki kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun. Namun kadang masih belum optimal dalam pelestariannya. Berbagai kearifan lokal yang ada selayaknya harus dikedepankan dalam pendidikan budaya di Kota Magelang. Sehingga tetap lestari dan berkembang dari masa ke masa.

Bukanlah hal yang ‘ngayawara’ (mustahil) untuk mengangkat kearifan lokal menjadi sesuatu yang memiliki ‘nilai jual’ bagi Kota Magelang. Karena jelas ada landasan untuk menuju hal itu sesuai misi Kota Magelang yang keempat. Yaitu, mengembangkan potensi budaya dan kesenian daerah sebagai landasan pengembangan dan pembangunan pariwisata Kota Magelang.

Banyaknya kesenian tradisional, upacara-upacara tradisi tahunan di Kota Magelang dapat dijadikan materi pendidikan. Misalnya kesenian Jathilan, Topeng Ireng, juga Grebeg Gulai, Grebeg Gethuk, hingga Magelang Tempo Doeloe semua dapat dikemas menjadi materi pendidikan di Kota Magelang. 

Semua Lembaga Pendidikan

Bagi Kota Magelang bukan hal yang mustahil untuk mengedepankan pendidikan budaya dengan mengangkat kearifan lokal di semua lembaga pendidikan. Dari tingkat PAUD/TK hingga perguruan tinggi secara intens mengembangkan kearifan lokal.

Tak ada salahnya tokoh budaya dilibatkan dalam merumuskan silabus atau panduan belajar bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, tokoh pendidikan dan guru. Hal itu tentu akan lebih mengena dan lebih tepat sasaran. Sehingga semua pihak menjadi lebih merasa handarbeni (memiliki) budaya daerahnya sendiri.

Banyaknya keluhan masyarakat tentang lunturnya budaya dan tradisi akibat tergeser budaya luar, lambat laun dapat diatasi. Tentu dalam hal ini para pamong, pendidik, dan guru mendukung dengan berbagai kreativitasnya untuk menanamkan cinta budaya kepada peserta didiknya di sekolah masing-masing.

Misalnya, istilah dan kata kiasan dalam budaya Jawa ditulis dan ditempel di dinding sekolah untuk mengingatkan para siswa. Berbagai permainan tradisional, dolanan anak, dan lagu-lagu yang sarat pitutur atau petuah dimanfaatkan dalam proses pembelajaran agar lebih kreatif dan menyenangkan. Selain itu peserta didik juga ditanamkan nilai-nilai penting seperti percaya diri, sopan santun, hormat, kreatif, dan bertanggung jawab. (*)

 

Joko Budiyono

Sekretaris Daerah Kota Magelang

Provinsi Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?