Advertorial Daerah

Capai Kecakapan Umum, 47 Calon Bantara dan 13 Calon Laksana Diuji

MAGELANG - Kecakapan umum bagi penegak bantara dan penegak laksana diperlukan. Sebagai pondasinya, SMKN 2 Kota Magelang, Jawa Tengah menggelar Uji Syarat Kecakapan Umum (SKU) bagi 47 siswa calon bantara dan 13 siswa calon laksana di Kampung Banyumili Magelang Salatiga KM 5 Muncul, belum lama ini. Setelah itu dilanjutkan pelantikan bantara.

“Ujian SKU untuk mencapai kecakapan umum penegak bantara dan penegak laksana. Ini hanya sebagian dari tujuan. Tujuan umum dari pramuka itu adalah menjadikan pribadi yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan taat hukum,” kata Pembina Pramuka sekolah, Budiyanto, S.I.Pust.

Dijelaskan, Uji SKU merupakan pengujian kecakapan untuk kenaikan tingkat. Ada 23 butir SKU yang diujikan yang di dalamnya mencakup 5 aspek. Pertama aspek spiritual tentang aspek keagamaan.

“Kedua aspek emosional, bagaimana anggota pramuka itu yang pada usia penegak bisa mengendalikan emosi,” lanjutanya.

Yang ketiga aspek intelektual, terkait dengan pengetahuan. Keempat aspek sosial, meliputi komunikasi, kerjasama, saling menghargai dan berempati kepada orang lain. Dan kelima aspek fisik kesehatan.

Dijelaskan, pengujinya ada 7 pembina dari sekolah setempat. Untuk senior hanya mendampingi dan melatih adik – adiknya agar cakap. Senior harus rekomendasi dari pembina. Hasilnya semua peserta yang diuji cakap.

“Bantara yang sudah naik kelas XI nantinya membantu pembina, ikut menyampaikan materi materi pramuka berdasarkan kurikulum. Pramuka adalah ekstrakulikuler wajib untuk kelas X, dan kelas XI hanya bantara saja yang wajib mengikuti pramuka,” jelasnya.

Setelah Uji SKU digelar pelantikan, yang disimulasikan dengan outbond agar terlihat lebih menarik dan menyenangkan, tetapi tujuannya tetap.

Di pelantikan ini tidak ada jerit malam karena sangat berisiko dan keadaannya tidak mendukung.

“Pramuka di sekolah ini sudah tidak ada jerit malam. Sebenarnya inti pokok dari jerit malam lalu dimasukkan ke makam adalah untuk perenungan bahwa kita juga pasti merasakan mati dan harusnya lebih giat untuk beribadah,” ujarnya.

“Tetapi kalau siswa sekarang jika setelah mengikuti jerit malam biasanya malah untuk bahan bercandaan seperti mengageti temannya menggunakan properti jerit malam, itu bisa berisiko untuk yang mempunyai penyakit jantung. Jika diberi perenungan maka akan lebih mengenang,” tambahnya.

Sakah satu peserta, Eka Susanti, siswa kelas X, berharap kegiatan kedepan dalam pramuka lebih menyenangkan. Dan, bisa memberikan pengetahuan yang lebih. “Pramuka bukan hal yang membosankan lagi,” tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?