Daerah

Karakter Estetika dan Budaya Perlu Ditanamkan Sejak Dini

MAGELANG - Potensi kesenian pada siswa perlu dikembangkan agar menjadi manusia yang memiliki kepekaan estetika. Seiring dengan tumbuh kembangnya secara fisik dan psikis, anak perlu diajarkan estetika melalui seni dan budaya.

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Kesenian dan Perfilman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang, Mantep, S.Pd, MM.Pd, di ruang kerjanya, Rabu (22/1/2020).

Mantep berharap di setiap sekolah memiliki program pembelajaran terkait kesenian yang tidak hanya di kelas. Berbagai kegiatan dapat diprogramkan pihak sekolah untuk anak-anak mengenal dunia kesenian, perfilman dan kebudayaan.

“Seperti mengunjungi museum, melukis di ruang terbuka, kemah budaya, pemutaran film edukatif, mengadakan atau mengikuti lomba dan festival kesenian,” tuturnya.

Agar tidak Terasing

Menurut suami Umi Sismawati, S.Pd ini, anak perlu dikenalkan kesenian dan budaya sejak dini dimaksudkan menanamkan karakter estetika. Sekaligus memberikan hiburan yang sehat, edukatif, dan bernilai kultural kepada anak-anak.

“Sehingga mereka tidak semakin terasing dari akar budaya menyusul perkembangan teknologi yang semakin pesat,” jelasnya.

Dijelaskan, sebetulnya setiap anak berpotensi memiliki daya kreatif yang luar biasa. Penanaman nilai budi pekerti dan karakter pada anak-anak merupakan modal penting dalam menumbuhkembangkan rasa percaya diri mereka

“Sehingga perlu diupayakan oleh pemerintah dan masyarakat dalam pembinaan serta pengembangan kesenian yang diselaraskan dengan jati diri dan karakter bangsa,” ungkap pria kelahiran Magelang 4 September 1967 ini.

Mencintai Seni dan Budaya Lokal

Membentuk karakter estetika bisa dimulai dari mencintai seni dan budaya sendiri. Berbagai seni dan budaya lokal kekayaan daerah sendiri jangan sampai anak tidak mengetahuinya. Karena dengan mencintai seni dan budaya lokal anak akan lebih cepat mengembangkan karakter tersebut.

“Budaya daerah termasuk kesenian tradisional, selain dapat menumbuhkembangkan kreativitas anak, sekaligus menumbuhkan keinginan melestarikan kearifan lokal,” jelas Mantep.

Mencintai seni dan budaya lokal, lanjut Mantep, menjadi landasan mencintai dan melestarikan budaya nasional. Sehingga anak perlu dikenalkan berbagai sumber seni dan budaya lokal dalam mengembangkan karakter estetika.

“Jangan sampai anak tidak tahu berbagai sumber budaya di daerahnya sendiri. Seperti tari, legenda, sejarah, permainan tradisional anak-anak atau dongeng yang berkaitan dengan masing-masing tradisi daerahnya,” tandas ayah dari Wisnu Kusuma Wardana dan Pratiwi Kusuma Wijayanti ini.

Pecinta lagu-lagu Campursari ini mengatakan, dengan seni dan budaya, setiap manusia dapat belajar mengolah cipta, rasa, dan karsa. Sehingga hidupnya akan lebih indah dengan sentuhan estetika yang tertanam di hatinya.

“Anak akan terbiasa mengimplementasikan sikap estetis mereka dalam kehidupan. Terbiasa saling menghargai, bertoleransi, mengapresiasi karya orang lain, dan yang paling penting menghargai nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu sumber pendidikan budi pekerti,” pungkasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?