Daerah

Disdikbud Kabupaten Magelang Dukung Pengurangan Sampah Plastik

MAGELANG –  Menindaklanjuti instruksi Bupati Magelang Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik Kabupaten Magelang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) telah menghimbau serta mengajak semua sekolah dan instansi untuk menindaklanjuti hal itu.

Melalui surat edaran Nomor 660.1/1484/04.1c/2020 tertanggal 13 Januari 2020, sekolah dan instansi Disdikbud diimbau ketika mengadakan kegiatan rapat, koordinasi, sosialisasi, pelatihan dan kegiatan sejenisnya untuk tidak menyajikan snack dos dan minuman kemasan plastik.

“Sebaiknya tiap-tiap ruang rapat juga disediakan peralatan saji seperti gelas, cangkir, lepek snack dan tempat minum semacam dispenser atau drink jar,” kata Kepala Disdikbud Kabupaten Magelang Azis Amin Mujahidin, M.Pd, Selasa (21/1/2020).

Azis meminta jajarannya untuk mengurangi pemakaian kemasan plastik pada makanan. Sebaiknya menggunakan jenis kemasan yang dapat didaur ulang.

“Bahkan perlu setiap peserta rapat membawa dan menggunakan tempat minum khusus atau tumbler,” imbaunya.

Penyumbang Sampah Plastik Terbesar

Azis mengatakan bila setiap orang sadar akan bahaya sampah plastik terhadap lingkungan, tentu sudah mulai melakukan hal-hal bijak tentang pemakaian plastik.

Azis menyebutkan, dalam studi yang dilakukan oleh UN Environment Programme (UNEP) berjudul “Single-Use Plastics: A Roadmap for Sustainabil-ity” pada tahun 2018 dikatakan, sampah plastik berupa kantong dan styrofoam memerlukan ribuan tahun untuk bisa terurai.

Sedangkan penelitian Jenna R. Jambeck dari Georgia University pada 2010 menyebutkan, ada sekitar 275 juta ton sampah plastik yang tersebar di seluruh dunia, dengan sekitar 4,7 hingga 12,7 juta ton sampah berada di lautan. Ini artinya, setiap satu menit, sampah plastik yang dibuang ke laut setara dengan satu truk penuh.

“Bahkan di tahun 2010 itu, Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia, setelah China. Kita harus berupaya menghilangkan peringkat itu. Di mana saat itu Indonesia tercatat telah menghasilkan sampah plastik sebesar 3,22 ton, dengan sekitar 0,48-1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan,” terang Azis.

Dimulai dari Lingkungan Sekolah

Menurut Azis, bahaya sampah plastik yang mencemari lingkungan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Sehingga sebagai masyarakat, perlu turut ambil bagian dalam mengurangi pencemaran akibat sampah plastik ini.

“Bukan hanya orang dewasa saja, anak-anak juga harus memiliki kesadaran bijak plastik sejak dini untuk membantu mengurangi dampak sampah plastik. Sehingga para kepala sekolah dan guru harus menanamkan bijak plastik kepada peserta didik,” tandas Azis.

Namun Azis juga berharap mengajarkan anak-anak untuk bijak plastik tidak hanya dilakukan di sekolah saja. Namun orang tua di rumah pun melakukan hal itu kepada anak-anak mereka.

“Sehingga program bijak plastik ini lebih mengena dan sinkron antara yang dilakukan di sekolah dan di rumah,” pungkas Aziz. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?