Opini

Jangan Dimarahi! Jika Nilai Anak Kurang Memuaskan, Coba Lakukan Ini

Siedoo, Orang tua cenderung ingin anaknya mendapat nilai sempurna, baik dalam tes formatif, tes sumatif, maupun dalam ujian. Namun sebaiknya orang tua tidak mengutamakan hasil dan menyalahkan anak karena mendapatkan nilai kurang memuaskan.

Mengapa demikian? Hal itu karena sikap orang tua yang kerap menyalahkan anak hanya akan membuat si anak tertekan dan bahkan depresi terutama saat menghadapi tes atau ujian.

Sebaiknya orang tua tidak mengajarkan kepada anak membiasakan untuk mengutamakan hasil belajarnya. Karena, jika anak diajarkan untuk berorientasi pada hasil, dia akan cenderung tertekan dan akhirnya menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai memuaskan. Lebih baik, orang tua melatih anak untuk memperbaiki proses, yaitu memperbaiki cara belajarnya.

Selain faktor kecerdasan intelektual, sebenarnya anak membutuhkan kondisi ideal agar sukses belajar. Kondisi demikian akan didapatkan anak jika orang tua menanamkan nilai positif pada mereka. Seperti dengan memberi semangat, apresiasi, dan pendampingan yang tidak disertai tuntutan berlebihan.

Orangt tua juga jangan tantas kesal jika si anak gagal mendapat nilai seperti yang diharapkan. Karena belum tentu dari faktor kemampuan si anak, namun dari cara belajarnya. Sehingga orang tua memiliki kewajiban melakukan evaluasi terhadap cara belajar anak di rumah.

Agar anak tetap semangat belajar dan mencoba memperbaiki cara belajarnya, cobalah langkah-langkah berikut ini. Langkah-langkah bijak yang perlu dilakukan orang tua ketika anaknya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan.

1. Bertanya dan Dengarkan

Orang tua sebaiknya rutin mengontrol anak dalam belajar. Mintalah anak untuk menunjukkan nilai ulangan harian atau hasil tes lainnya. Cobalah hindari perkataan atau pertanyaan yang menghakimi anak dan membuat anak enggan bercerita keadaan sebenarnya. Caranya, ajukan pertanyaan yang membantu si anak merefleksikan nilai ujian yang didapatkannya

Kemudian dengarkan cerita anak sampai selesai. Dengarkan dengan hati, jaga nada suara dan ekspresi wajah kita, serta pahami emosi yang dirasakan oleh anak.

Biarkan semua unek-unek yang dirasakan anak bisa ia ceritakan sampai tuntas. Bujuk dengan penuh kasih sayang agar anak menceritakan apa yang dirasakan. Karena jika unek-uneknya ditahan hanya akan menjadi beban serta membuat komunikasi orang tua dan anak jadi terganggu.

2. Berikan Apresiasi

Sudah selayaknya orang tua selalu memberi apresiasi atas usaha belajar anaknya. Sehingga meskipun hasil atau nilai yang diperoleh si anak tak sesuai dengan harapan. Salah satu caranya adalah mengatakan pada si anak bahwa ia sudah berusaha keras. Hasil ujian kurang memuaskan bukanlah sebuah petaka.

Namun perlu diingat jika sebelumnya si anak malas-malasan belajar, kemudian hasil tes yang didapat kurang memuaskan, maka hal itu harus digunakan orang tua sebagai senjata memperbaiki proses belajar anak.

3. Ajari Sikap Legawa

Sikap legawa atau menerima kelemahan dan kekurangan harus ditanamkan kepada anak. Sehingga ketika dia mendapatkan hasil atau nilai yang kurang memuaskan, mereka tidak patah semangat dan ada kemauan memperbaiki diri. Orang tua sebaiknya memotivasi dan mengajak anak untuk selalu berpikir positif.

Tanamkan pengertian kepada anak bahwa hasil tes atau ujian sekolah yang buruk, sama sekali bukan pertanda kebodohan atau kegagalan. Pengertian demikian itu sangat penting agar kepercayaan diri anak tidak luka dan luntur.

4. Lakukan Tes IQ dan Kembangkan Potensi Anak

Saat ini, banyak sekolah telah melakukan tes kecerdasan intelektual kepada para siswa. Namun, demikian ada baiknya anak perlu menjalani tes IQ lagi di luar sekolah, yang sifatnya personal. Bahkan sebaiknya tes IQ tersebut dijalani anak sebelum memilih sekolah.

Tes IQ secara personal ini dianggap penting, agar orang tua bisa menentukan model pembelajaran yang tepat pada anak. Selain itu, orang tua akan tahu pada bidang apa saja anak mereka unggul. Dengan melihat hasil tes IQ tersebut, maka kegagalan anak dalam mendapatkan nilai baik pun bisa diantisipasi orang tua.

Perlu orang tua pahami pula, semakin tinggi nilai IQ, semakin spesifik juga bidang yang dikuasai seorang anak. Sehingga orang tua fokus untuk mengembangkan potensi anak yang unggul. Bukan menuntut anak untuk sempurna hampir di semua bidang pelajaran.

Dengan melihat hasil tes IQ anak, orang tua akan mengetahui bakat-bakat yang dimiliki anak dan mengembangkannya. Misalnya jika dari tes IQ dan ujian sekolah anak diketahui berbakat dalam pelajaran matematika, maka dukung dia mengembangkan diri pada mata pelajaran itu.

5. Berikan Hak-hak Anak

Bagaimana pun, seorang anak tetap butuh bermain bersama teman-teman sebayanya. Dengan bermain bisa membantu anak melupakan kesedihannya. Apalagi perasaan sedih setelah mendapatkan hasil tes yang kurang memuaskan.

Sehingga orang tua hendaknya tetap memberikan hak-hak anak dengan semestinya. Hindari melarang anak bermain dengan teman sebayanya, namun cukup ajarkan membagi waktu dengan baik. Karena anak juga memiliki hak untuk belajar bersosialisasi dan mengisi masa anak-anak.

Dengan melakukan langkah-langkah di atas, orang tua akan lebih bijak dalam bersikap terhadap anak ketika hasil tes kurang memuaskan. Serta orang tua akan lebih tahu bagaimana anak memperbaiki cara belajarnya. Selamat mencoba! (*)

Narwan Siedoo

Apa Tanggapan Anda ?