Advertorial Daerah

SMKN 2 Kota Magelang Gelar Bazar, Omzet Sehari Rp 3 Juta

MAGELANG  - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Kota Magelang, Jawa Tengah menyelenggarkan Gebyar Kompetensi Siswa, Kamis - Jumat (19 – 20/12/2019). Kegiatan tersebut terbuka untuk umum, bertepatan dengan pengambilan raport. Kesempatan ini diikuti siswa kelas 12 jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP).

“Sebuah kegiatan untuk menguji kompetensi siswa dalam bentuk bazar,” kata Ketua Jurusan BDP SMKN 2 kota setempat, Dra. Sri Umi Kisworini.

Kegiatan tersebut merupakan sebuah realisasi dari beberapa mata pelajaran produktif atau kejuruan yang ditempuh sampai dengan kelas 3. Dulunya bernama UKK (Uji Kompetensi Keahlian), sekarang bernama Uji Kompetensi.

“Kalau dulu pelaksanaanya sekolah bekerja sama dengan dunia industri atau dengan Asosiasi Profesi Penjual Indonesia, sekarang kita akan ke LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) di bawah BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi),” jelas sosok Guru Pengelolaan Bisnis Retail tersebut.

Namun, hal tersebut tidak ter-cover untuk kompetensi yang praktis, maka pihak sekolah mencoba untuk tetap menguji kompetensi siswa. Mulai dari bekerja sama dengan suplier mempersiapkan tampilan, menata produk, melaksanakan penjualan, merealisasikan materi administrasi transaksi.

“Maka kita merencanakan, dulu kalau UKK kita di dalam kelas, sekarang outdoor sehingga siswa difasilitasi. Harapannya siswa itu kompeten,” imbuhnya.

Terdapat tiga kelas yang masing – masing terbagi menjadi lima kelompok dalam satu kelasnya. Lima kelompok tersebut harus menjual produk utama yang dibagi diantaranya, food, toiletris, stationary, fashion dan kosmetik.

“Tetapi supaya bisa mendongkrak penjualan, siswa boleh menjual produk pilihan (impulse buying). Misal, utamanya menjual pakaian, tapi tambah jualan makanan itu boleh,” terangnya.

Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Provinsi Jawa Tengah, Prihestu Hartomo, S.Pd., M.Si menyampaikan, para siswa diarahkan mampu dalam hal pemasaran dengan produk yang pasti dibutuhkan masyarakat dan mempunyai sasaran jelas.

Over all ini positif, harapannya saya, pihak sekolah jangan hanya satu semester satu kali. Mungkin ketika ada pertemuan rutin orang tua yang dikemas dalam bentuk rapat, namun di dalamnya ada informasi bazar,” ujar Prihestu.

Ditambahkannya, orang tua bisa dipersilahkan untuk menjual barang dagangannya, tetapi yang menjual anaknya. Pelaksaan mungkin bisa dilaksanakan lebih dari satu hari dan durasinya sampai malam.

Salah satu siswa kelas 12 jurusan BDP, Surya Aji Pamungkas mengungkapkan, pada hari pertama kelompoknya mendapat omzet tertinggi sekitar tiga juta.

“Jualannya produk utamanya toiletris perlengkapan kamar mandi seperti sabun, pasta gigi dan jualan sembako juga sebagai impulse buying,” kata Surya.

Dirinya mengaku, display cukup mempengaruhi dalam pemasaran. Kelompoknya mempunyai konsep, pembeli bisa memilih dan mengambil barang sendiri, ngantri di kasir dan mendapat nota.

“Kalau dari tampilan juga memikat, impulse buying kita taruh di depan. Karena yang mengambil raport kan banyak ibu – ibu dan kebanyakan mencari sembako dulu. Makanya kita taruh di depan, agar ibu – ibunya bisa mampir. Pertamanya ingin beli sembako, lalu jadi beli toiletrisnya juga,” urainya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?