Bentuk apresiasi, untuk aktivis pendidikan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar Een Sukaesih Award (ESA). Foto : Pikiran Rakyat.

Tokoh

Mengenang Een Sukaesih, Sosok Pejuang Pendidikan

BANDUNG – Een Sukaesih, sang pejuang pendidikan memang telah tiada. Meski saat hidup Een lumpuh, tetapi semangatnya untuk mendidik anak negeri tak patah arang. Ia mengajarinya dari tempat tidur dalam kondisi terbaring.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar Een Sukaesih Award (ESA). Tahun ini adalah tahun ketiga diselenggarakan dinas pendidikan provinsi setempat di Aula Barat Gedung Sate, Kota Bandung.

Melalui ESA, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) ingin nilai kebaikan yang dimiliki Een tidak hilang begitu saja. Bisa diteruskan oleh generasi berikutnya. Guru dalam keadaan apapun harus mendidik siswa.

“Kita ingin nilai kebaikan yang dikenal luas dan dimiliki Bu Een Sukaesih itu tidak ditinggalkan begitu saja, hidup tanpa dipelihara. Kita ingin hidup terus menerus dan menggema di kehidupan pedidikan di Indonesia. Khususnya di masyarakat Jawa Barat,” harap Aher sebagaimana dikutip Pikiran Rakyat.

Pada kesempatan itu ada lima pendidik di Jawa Barat yang mendapatkan penghargaan. Yakni, Kategori Pendidikan Nonformal: Nenden Marliah, Paud UMMI (Kabupaten Garut); Kategori TK: Lia Yulianingrum, TKA Plus Al-Lukman (Kabupaten Majalengka); Kategori SD/MI/SDLB: R. Histato Dayanto Kobasah, SDN Dewi Sartika (Kota Sukabumi); Kategori SMP/MTS/SMPLB: Mardiah, SMPN 3 Padalarang (Kabupaten Bandung Barat); dan kategori SMA/SMK/MA/SMALB: Endang Yuli Purwati, SMAN 4 Kota Bandung.

“Para pemenang ESA 2017 ini hebat-hebat. Ini inspirasi bagi yang lain. Dan Een Sukaesih berikutnya sudah muncul. Saya kira para juara ini adalah Een Sukaesih yang lainnya,” lanjutnya.

Ditandaskan, belajar atau mengajar saat ini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan dukungan teknologi. Namun untuk urusan figur, ketokohan, dan teladan kepemimpinan diperlukan sosok yang bisa menjadi contoh bagi generasi berikutnya, yaitu sang guru.

“Saya tekankan bahwa yang namanya transfer knowledge bisa tanpa orang, transfer skill bisa tanpa orang meskipun tidak sempurna. Tapi transfer value, nilai-nilai kehidupan dan nilai luhur rasanya sulit kalau tanpa guru. Oleh karena itu, sosok guru sebagai teladan kehidupan, di samping dia (guru) mentransfer pengetahun dan skill-nya tapi juga transfer nilai itu yang tidak bisa tergantikan,” papar Aher.

Dia berpeaan kepada para guru dalam menghadapi tantangan generasi milenial saat ini. Guru atau tenaga pendidik harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntuan zaman. Selain meningkatkan kapasitas dan ilmu pengetahuannya, guru mesti mampu memahami zaman dengan baik. Serta bisa menghadirkan kepribadian yang tahan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Saya kira kalau guru tangguh seperti itu apapun zaman perubahannya, zaman now diikuti, zam now now berikutnya diikuti, zaman new now berikutnya bisa diikuti. Tidak akan persoalan saya kira,” tutur Aher.

Dihimpun dari Detik dan Liputan6, Een meninggal pada 12 Desember 2014 di RSUD Sumedang. Saat hidup Een sempat diboyong ke Istana untuk bertemu SBY yang saat itu masih menjabat presiden.

Rumah Een berada Dusun Batu Karut RT 01 RW 02, Desa Ciberuem Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Selama 30 tahun ia lumpuh karena penyakit radang sendi yang dideritanya. Selama itu pula, ia mengajar anak-anak di sekitar rumahnya. Aktivitas mulia itu dilakukan sambil terbaring di kasur.

Setiap hari, siswa TK dan sekolah dasar berbondong-bondong ke kediamannya meminta pelajaran tambahan. Siswa SMP dan SMA pun masih minta diajarinya. Bahkan mahasiswa pun datang ke rumahnya menimba ilmu. Tak sedikit juga para mahasiswa membantunya mengajari anak didiknya. Itu ia lakukan semua tanpa bayaran.

Een lahir 10 Agustus 1963. Ketika usianya masih 18 tahun, ia mulai mengalami sakit-sakitan. Selama enam tahun mengalami sakit, Een masih bisa jalan. Namun, sejak 1987, penyakitnya membuatnya lumpuh total. Een merupakan lulusan IKIP Bandung, kini Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Apa Tanggapan Anda ?