Advertorial Daerah

Pengurus OSIS Digembleng Mulai Materi Kepemimpinan hingga Orasi

MAGELANG  - Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Magelang, Jawa Tengah melaksanakan kegiatan LDKS (Latihan Kepemimpinan Dasar Siswa) bagi pengurus OSIS baru, Sabtu - Minggu (14 – 15/12/2019). Kegiatan yang digelar di sekolah setempat itu untuk membekali peserta mulai keorganisasian hingga kepemimpinan.

“Setiap tahun kita laksanakan untuk regenerasi pengurus OSIS yang masa jabatannya satu tahun. Tahapannya mulai dari pemilihan ketua OSIS kemarin (12/12/2019). Sebelumnya juga dilakukan tahapan seleksi dan tersaring sebanyak 30 siswa,” kata Waka Kesiswaan SMPN 3, Johan Fitriyanto, S.Pd.

Diambil empat kandidat terbaik untuk menjadi calon ketua OSIS dari jumlah tersebut. Setelah terpilihnya ketua OSIS, kemudian dilanjutkan pembekalan melalui kegiatan LDKS.

“Kalau mereka menjadi pengurus OSIS harus dibekali dengan ilmu tentang keorganisasian. Materinya ada tentang keorganisasian, kepemimpinan, lingkungan hidup, seni, keriwausahaan, keimanan dan ketakwaan, tata cara berorasi dan sebagainya,” terangnya.

Menurutnya, hal yang menjadi antara pembeda pengurus OSIS dengan siswa biasa, diibaratkan dalam sebuah negara pengurus OSIS menjadi DPR dan siswa lainnya menjadi rakyatnya.

“Sebagai wakil dari siswa lain jika ada aspirasi disalurkan melalui siswa pengurus OSIS ini. Kemudian nanti disampaikan ke pihak sekolah dan mereka juga ikut mengelola,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, terdapat materi lingkungan hidup yang disampaikan oleh Kasi Penanganan Sampah DLH Kota Magelang Widodo, S.P.

“Kalau di sini, guru yang berkaitan langsung dengan ligkungan hidup kan jarang. Kebetulan kemarin (13/12/2019) Pak Widodo kesini mengawasi kegiatan Jumat Bersih di sekolah, menyampaikan untuk bersedia untuk memberikan materi,” imbuhnya.

Salah satu guru SMPN 3, Nur Pratiwi, S.Pd memberi komentar terkait materi orasi yang diberikan kepada siswa. Siswa yang menjadi pengurus OSIS, mau tidak mau pasti harus berbicara di depan umum, meski hanya sedikit.

“Saya memberikan motivasi kepada mereka, bahwa berbicara di depan umum itu bukan hal yang memalukan, mereka harus punya dasar itu. Karena mereka itu sebagai wakil siswa di sini,” kata Nur.

Materi tersebut sudah tercantum dalam mata pelajaran bahasa Indonesia tentang pidato persuasif. Mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang dikatakan atau disebut dengan berorasi.

“Makanya kemarin ketika mereka tes penilaian pidato persuasif, mau tidak mau mereka harus bisa tahu isinya, tanpa teks. Ketika kita menulis dengan ketika kita mengatakan bisa berbeda kan. Walaupun sudah kita tulis, kemudian dihafalkan lalu diucapkan pasti akan berbeda kata – katanya,” terang guru bahasa Indonesia tersebut.

Hal tersebut bertujuan untuk melatih siswa,  bagaimana menanggulangi ketika lupa saat berpidato. Sehingga, diharapkan siswa yang menjadi pengurus OSIS mempunyai mental yang baik dan mampu menyampaikan suatu hal di depan umum tanpa bergantung dengan teks. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?