Kuliah Umum di UGM yang menghadirkan mantan teroris dan korban bom Bali. l foto : ugm.ac.id

Daerah

Kuliah Umum di UGM, Hadirkan Mantan Teroris dan Korban Bom Bali, Simak Ceritanya


YOGYAKARTA – Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kuliah umum belakangan ini di kampus setempat. Tajuk yang diangkat Pencegahan Radikalisme dan Penguatan Identitas Bangsa di Perguruan Tinggi.

Kesempatan tersebut menghadirkan mantan teroris, Ali Fauzi Manzi, salah satu orang yang berperan dalam perkembangan gerakan radikalisme di tahun 1990-an. Sekembalinya dari Mindanau untuk belajar membuat bom dari Umar Patek, ia didapuk sebagai kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah.

Kemudian, bersama sang kakak Amrozi, ia terlibat aksi bom Bali I. Dirinya juga melatih milisi Ambon dan Poso, hingga kemudian tertangkap pada 2004 di Filipina.

Selain Ali, narasumber yang dihadirkan adalah Chusnul Chotimah, seorang ibu dari 3 orang anak, salah satu korban dari serangan Bom Bali. Bom yang menggemparkan dunia, saat itu, merenggut nyawa lebih dari 200 orang dan melukai ratusan orang lainnya.

“Saya memohon maaf atas keterlibatan saya dan kakak-kakak saya dalam teror di Indonesia,” ucapnya mengawali pemaparan sebagaimana dilansir dari ugm.ac.id.

Ia memaparkan, akar terorisme tidaklah tunggal, melainkan saling berkaitan. Karena itu, cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal.

Ia mengibaratkan masalah terorisme sebagai komplikasi penyakit yang memerlukan penanganan dari dokter spesialis dan kampanye pencegahan dari orang yang pernah mengalami penyakit tersebut.

Sebagai seorang mantan teroris, ia kini berjuang untuk menghentikan penyebaran pemahaman destruktif yang ingin memporak-porandakan kehidupan bernegara.

“Saya bukanlah seorang dokter spesialis, namun saya pernah pengalami penyakit seperti itu bertahun-tahun, sekarang saya bisa bangkit sembuh dan menyembuhkan,” kata Ali.

Sementara itu, tujuh belas tahun yang lalu, Chusnul Chotimah, akibat peristiwa tersebut, ia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya dengan rasa sakit yang tak tergambarkan.

Tidak hanya itu, ia juga harus kehilangan usaha kecil yang ia bangun bersama suaminya dan kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo untuk mengadu nasib dalam kondisi fisik yang belum begitu pulih serta mental yang masih tertekan.

“Bom Bali merubah hidup saya secara drastis. Sebelumnya saya tidak memiliki masalah secara ekonomi, tapi setelah itu saya tidak punya apa-apa lagi,” kata Chusnul.

Jalannya untuk bangkit dari keterpurukan ternyata tidak mudah. Demi menghidupi keluarganya, ia dan suami harus membanting tulang bekerja secara serabutan.

Selama bertahun-tahun ia bertahan dengan pekerjaan sebagai penjual sayur keliling, sementara suaminya menjadi kuli pengangkut batu.

“Saya harus bangun dari jam 1 pagi, jualan sampai jam 11 siang untuk bisa menghidupi anak-anak. Merekalah yang membuat saya bertahan. Jika tidak ada anak-anak, saya pikir saya lebih baik mati saja,” ucapnya.

Di tengah tekanan psikologis dan kesulitan ekonomi, ia mengaku pernah mencoba bunuh diri hingga empat kali.

Ia juga merasakan amarah yang begitu besar terhadap para teroris, hingga ia dan suaminya pernah memiliki rencana untuk membakar rumah salah satu teroris, namun akhirnya niat itu ia urungkan pula.

“Sakit hati saya dengan para teroris itu. Waktu tahu bahwa mereka berasal dari Lamongan, saya dan suami mau naik sepeda ke rumah Ali Imron dan membakar rumahnya, supaya mereka juga merasakan rasa sakit yang saya alami,” ujarnya sambil terisak.

Cobaan hidup yang ia alami mencapai puncaknya ketika sang suami tergiur dengan tawaran untuk menjadi kurir narkoba demi mendapatkan uang untuk menyekolahkan anaknya, yang berakhir dengan sang suami ditembak mati oleh petugas BNN. Kembali ia menyalahkan para teroris yang membuat mereka menghadapi kesulitan sejak awal.

Setelah melalui perjalanan yang tidak mudah, ketika ia mulai mendapatkan bantuan dari BNPT pada tahun 2017 yang salah satunya berupa pendampingan psikologis, ia mengaku mulai bisa memaafkan para pelaku pengeboman.

“Akhirnya bisa memaafkan, walau dengan waktu yang begitu panjang. Saya berpikir, kalau saya tidak memaafkan pun tidak akan ada yang berubah, wajah saya tidak mungkin kembali lagi. Maka saya mulai memaafkan, agar saya juga bisa melanjutkan hidup saya,” ungkap Chusnul. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Ads Samanata