Pra guru dan anak didik PAUD TWINQ Kids School, dalam kegiatan membuat pupuk organik dan insektisida | foto : PAUD TWINQ Kids School.

Advertorial Daerah

PAUD TWINQ Kids School Ajarkan Peduli Lingkungan hingga Buat Pupuk Sendiri


MAGELANG – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) TWINQ Kids School, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengajarkan cinta lingkungan dan pembuatan pupuk organik kepada anak didiknya. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian pembelajaran puncak tema Tanaman.

“Dari usia dini, anak – anak dikenalkan tentang manfaat tanaman, penghijauan maupun mendapatkan udara segar. Kemudian cinta tanah air atau hizbul wathon minal iman, bahwa alam itu melekat dengan kita,” kata Kepala PAUD TWINQ Kids School, Sa’adah Noor, S.Pd.

Ditambahkan, kepedulian terhadap lingkungan sekitar ialah menanamkan pemahaman tentang keseimbangan atau harmoni kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari alam.

“Semua ini harus ditanamkan melalui pendidikan anak usia dini. Jadi sedini mungkin anak harus bisa memahami,” imbuhnya.

Kegiatan peduli lingkungan dengan konsep outing class tersebut diikuti 45 anak di Kebun Bibit Senopati pada Jumat (29/11/2019). Pada kesempatan itu, mereka diajarkan menaman bibit tanaman dan pengenalan jenis tanaman. Pihak sekolah berupaya melaksanakan program bersifat progresif, terbaru dan banyak diminati.

“Sesuai dengan anjuran Menteri Pendidikan yang baru, bagaimana guru itu menerangkan sampai anak itu paham. Tidak hanya di kelas tapi harus juga di luar sekolah. Jadi anak – anak itu akan lebih mengenal dan menyerap ilmunya kalau pembelajaran langsung di lapangan,” tuturnya.

Menurutnya, jika pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas saja, akan menimbulkan efek kejenuhan dan stres yang didapat. Hal tersebut berakibat penyerapan ilmu yang kurang maksimal dan berdampak ketika beranjak dewasa.

Tindak lanjut dari kegiatan tersebut dilaksanakan pembuatan pupuk organik dan pupuk insektisida di sekolah pada Senin (2/12/2019). Praktik dalam pembuatan pupuk organik menggunakan bahan dasar limbah dapur rumah tangga seperti cangkang telur dan nasi yang sudah basi.

“Cangkang telur itu diblender bersama gula pasir, ukurannya kalau cangkangnya 1 Kg, gulanya seperempat. Kemudian ditambah air dan diendapkan selama satu bulan, ditaruh di dalam derigen dan ditutup rapat,” ujarnya.

Dijelaskannya, cara pemakaian pupuk organik tersebut menggunakan ukuran satu banding tujuh. Artinya jika pupuk satu gelas maka dicampur air tujuh gelas, lalu disemprotkan ke tanaman.

Sedangkan pupuk dari nasi sisa, teknis pembuatannya nasi diblender lalu dicampur dengan leri (air cucian beras) dan disaring. Kemudian dimasukkan ke dalam botol tertutup namun tidak diisi penuh. Tujuannya untuk memberi ruang udara. Cara pemakaiannya dengan ukuran satu banding lima.

Pupuk yang dibuat dari cangkang telur dan nasi sisa tersebut mengandung vitamin B1, bagus untuk tanaman. Penggunaan pupuk organik ke tanaman, dua hari satu kali. Pembuatan pupuk insektisida juga dipraktekkan, penggunaannya untuk disemprotkan ke tanaman yang terkena penyakit.

“Memakai bawang putih yang diblender, disaring lalu dilkasih sunlight kira – kira ya dua sendok dan minyak goreng satu sendok. Kemudian dimasukkan ke dalam botol dan diamkan selama satu hari, pemakaiannya dua minggu satu kali untuk tanaman,” paparnya.

Pembelajaran membuat pupuk ramah lingkungan tersebut, bertujuan agar anak – anak tidak terbiasa praktis menggunakan pupuk yang berbahan kimia sejak dini. Pemanfaatan limbah dapur untuk dijadikan pupuk jauh lebih bagus.

“Besok kalau sudah besar, harapannya anak akan mengenal dan mengingat apa yang diajarkan diusia kecil. Anak akan lebih peduli dengan lingkungan, karena lingkungan yang sehat otomatis akan membuat kita sehat,” tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?