Asfiyah, S.Pd guru BK SMP IT Ihsanul Fikri Pabelan Magelang Jawa Tengah saat menerima piala Juara 3 tingkat Provinsi Jawa Tengah | foto: SMP IT Ihsanul Fikri Pabelan Magelang

Advertorial Tokoh

Angkat Self Talk, Asfiyah Juara 3 Level Jateng


Siedoo, Asfiyah, S.Pd, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Terpadu (IT) Ihsanul Fikri Pabelan, Magelang, Jawa Tengah mendapat juara 3 lomba penelitian tindakan kelas Jaringan Islam Terpadu (JSIT) tingkat provinsi Jawa Tengah (Jateng). Ajang tersebut digelar untuk memperingati Hari Guru Nasional (HGN).

“Sebelumnya (akhir Oktober 2019) seleksi melalui Kedu mendapat juara 1, lalu (November 2019)maju ke tingkat provinsi dapat juara 3. Intinya untuk penelitian tindakan kelas, setiap guru bisa melakukan, karena setiap guru melakukan tindakan dalam kondisi tertentu untuk perbaikan, misalnya saat mengajar di kelas,” kata Asfiyah.

Sebagai guru BK yang menangani anak - anak, dirinya mengangkat tentang menurunkan perilaku bullying dengan metode Self Talk. Semacam teknik yang disampaikan dan dilakukan anak untuk mengurangi perilaku tersebut.

“Jadi kita memberikan sugesti kepada anak memotivasi dirinya sendiri untuk menurunkan perilaku bullying. Hal itu berdasarkan obervasi dan laporan dari beberapa guru. Saya tidak sampaikan itu kepada umum, hanya feedback dari guru tentang perubahan perilaku dari anak. Karena kalau bimbingan konseling harus dirahasiakan dan bersifat privasi” jelasnya.

Dirinya mengaku, sebelum mencari kajian teori mengenai metode Self Talk. Dirinya menyimak dari pemain sepak bola dari klub Liverpool, Steven Gerrard.

“Pemain dari klub Liverpool itu sebelum bertanding didampingi oleh psikilog untuk melakukan Self Talk. Bagaimana performa dia lapangan, bagaiman kalau striker itu menendangnya dan semakin saya baca, ternyata atlet yang lain juga didampingi oleh psikolog,” terangnya.

Hal tersebut kemudian membuat dirinya mencoba untuk diterapkan kepada anak didiknya. Teknis ini yang diterapkan melalui empat tahap, pertama ialah self observation dengan mengajak anak mengobservasi dirinya.

Kedua ialah writen self talk agar fokus pada masalah yang akan diselesaikan, anak – anak diminta untuk menulis terlebih dulu. Ketiga ialah verbalization, hal yang ditulis sebelumnya untuk diucapkan berkali – kali. Sedangkan tahap yang ke empat ialah evaluasi tentang perubahan apa yang sudah ada.

Empat tahapan tersebut bersifat menjadi sebuah siklus yang terus diulang hingga memperoleh hasil yang diharapkan.

“Kesannya mendapat juara ya alhamdulillah, tapi pada prinsipnya lebih berharap kalau hasilnya nanti bisa bemanfaat bagi orang lain. Karena saya menyimpulkan dari hasil penelitian itu, bahwa Self Talk tidak hanya untuk itu tapi bisa dilakukan untuk hal yang lain,” imbuhnya.

Selain itu, Self Talk juga bisa diterapkan dalam lingkungan keluarga. Orang tua dan anak perlu adanya penyamaan persepsi terlebih dulu. Anak sekarang tidak bisa disamakan dengan anak zaman dulu di masa orang tuanya.

Orang tua perlu up to date terhadap perkembangan zaman. Kemudian bisa memberikan sugesti dan motivasi kepada anak  dengan penyamaan persepsi, mencoba mendalami dan masuk dari arah anak.

"Hal tersebut setidaknya membuat anak tidak merasa di dekte, tapi dibersamai," akunya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?