Nasional

Dua Gubernur ini Turut Komentari Teks Pidato Mendikbud yang Sempat Viral

JABAR – Isi teks Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim soal Hari Guru Nasional (HGN) yang sempat viral di media sosial turut ditanggapi beberapa gubernur di Tanah Air. Seperti dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. Pidato memang tidak begitu panjang. Hanya dua halaman.

Menurutnya Ridwan, pesan Mendikbud memang lebih personal dan memberikan rasa simpati kepada guru yang menemui banyak kendala dalam berinovasi dan berkreativitas.

"Sebagai perwakilan pemerintah pusat, kita akan menerjemahkan maksud Pak Menteri sebagai kebijakan di Pemprov Jabar. Karena, bahasanya masih terlalu umum, belum dijelaskan secara teknis," ungkapnya dilansir dari disdik.jabarprov.go.id

Setiap gagasan baru, lanjutnya, memang tak lepas dari dinamika skeptis. Sehingga, ia mengajak seluruh penyelenggara pendidikan untuk optimis dan mendukung sepenuhnya kebijakan Mendikbud.

Ridwan mengimbau seluruh guru agar membuat situasi belajar lebih menyenangkan. Tidak hanya berpatok pada hafalan, tapi juga mengasah jiwa sosial siswa dengan mengadakan bakti sosial atau melaksanakan kegiatan di luar kelas.

Sementara itu, Ganjar mengatakan pidato itu menunjukkan harapan Menteri Nadiem yang langsung menyasar pada intinya.

"Pidatonya singkat, langsung mengena dan ini sebenarnya ciri-ciri. Kalau kita membaca, Mas Menteri kita ini (Nadiem Makarim) mau yang lebih praktis, straight to the point, terus kemudian ada harapan besar, memberikan ruang-waktu yang lebih banyak kepada guru untuk berkreasi, berinovasi untuk membuat terobosan-terobosan yang diharapkan nanti siswa-siswa ini betul-betul punya pengalaman, pendidikan, proses pembelajaran, yang nantinya mereka turun ke masyarakat jadi siap," kata Ganjar dilansir dari detik.com.

Nadiem menulis pidato tersebut dengan maksud menyampaikan bahwa guru sulit berinovasi karena terbebani masalah administrasi. Menurut Ganjar, salah satu solusinya adalah dengan kemajuan teknologi.

"Tapi memang tidak berarti soal administrasi kita hilangkan karena apa pun kita akan dimintai pertanggungjawaban dalam pengelolaan keuangan publik. Yang diperlukan hari ini adalah beban administrasi yang diberikan kepada guru dikurangi, sebenarnya dengan cara yang elektronik. Kalau itu bisa dikelola dengan cara elektronik, tentu akan mempermudah," jelas Ganjar.

"Kedua, sistemnya lebih disederhanakan, sehingga itu nanti tidak menjadi beban bagi guru-guru," imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat (Jabar), Dewi Sartika menyatakan, momen hari tersebut harus menjadi momentum bagi guru untuk meningkatkan kualitas, terutama dalam penguasaan teknologi informasi. Hal tersebut sejalan dengan era revolusi industri 4.0 saat ini yang fokus pada proses digitalisasi.

"Jika Indonesia ingin maju dan menciptakan sumber daya manusia yang unggul, kita harus melakukannya melalui literasi digital," ujarnya.

Kadisdik pun berterima kasih kepada seluruh guru di Jabar yang telah berdedikasi untuk keberlangsungan pendidikan.

"Semoga, para guru mampu membawa pendidikan menuju 'Jabar Juara' dengan inovasi dan kolaborasi," harapnya.

Di sisi lain, melansir dari kompas.com, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengapresiasi semangat mulia para guru untuk mendidik anak-anak para penerus bangsa.

Memperingati Hari Guru, Risma menyampaikan bahwa guru memiliki peran untuk memberikan pendidikan berkualitas terhadap peserta didik. Saat ini, tugas dan tantangan guru di Surabaya semakin berat, lantaran anak-anak Surabaya tidak hanya bersaing dengan anak-anak daerah lain.

"Tantangan guru dan kami dari pemerintah itu sangat berat, karena tahun 2020 kita semua tahu bahwa WTO (World Trade Organization) sudah berjalan," kata Risma.

"Anak-anak kita sudah tidak bersaing, misalnya, dengan anak Jakarta atau Semarang, anak-anak Surabaya akan bersaing dengan anak-anak di seluruh dunia," tambahnya.

Untuk itu, para guru diminta untuk terus menjaga kualitas dan mutu pendidikan di sekolah. Anak-anak di Surabaya, sambung Risma, harus mampu bersaing dengan anak-anak di seluruh dunia.

"Karena itu kita harus persiapkan dengan betul supaya anak-anak tidak jadi penonton di kota atau di negara ini," ujar Risma.

Mengenai nasib para guru yang kerap diabaikan di banyak daerah, Risma mengaku bahwa kesejahteraan guru di Surabaya selalu diperhatikan.

"Saya rasa (kesejahteraan guru) di Surabaya lebih baik dari pada kota lain," kata Risma. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?