Kecanduan gawai ancam anak-anak. I foto : ayobandung.com

Opini

Waspada, Kecanduan Gawai Ancam Anak-anak

Iklan SMA Mutual

Siedoo, Dewasa ini hampir tidak ada orang yang tidak membutuhkan gawai. Berbagai usia dan jenis kelamin setiap hari berkutat dengan gawai. Bahkan anak-anak pun mengantongi gawai pribadinya. Hal ini perlu perhatian orang tua, mengingat ada ancaman serius mengincar anak-anak kita, yaitu kecanduan gawai.

Betapa miris melihat kenyataan yang membuat orangtua mengelus dada, seperti terjadi di Jawa Barat. Di mana Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat mencatat, sejak 2016, ada 2019 anak dirawat terkait adiksi internet dan games. Rata-rata tiap bulan 10-12 anak melalui rawat inap/jalan di RSJ Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat ini. Pasien anak ini berusia 8-15 tahun.

Dokter spesialis kejiwaan di RSJ Jawa Barat, dr. Lina Budiyanti, SpKJ, menceritakan orang tua pasien mengeluh putra-putrinya tidak bisa lepas dari gawai. Namun, dari pemeriksaan, biasanya sudah ada kondisi medis lain yang menyertai (komorbiditas).

Gangguan lain ini, ujar Lina, antara lain depresi, trauma dengan lingkungan sekitar, atau memiliki Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHA). (voiceindonesia.com. 19/10/2019).

Kemudian sebanyak 8 anak harus dirawat dan menjalani terapi di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo Semarang akibat kecanduan gawai. (Suara Mereka, 18/11/2019). Masih banyak lagi serupa yang belum disadari para orang tua, atau sudah disadari namun cukup ditangani sendiri.

Kecanduan gawai menyebabkan menurunnya kemauan belajar. Anak akan terbiasa membolos demi bisa leluasa bermain gawai. Bahkan anak cenderung marah bila gawainya diminta orang tua.

Perketat Waktu Bermain Gawai

Memang gawai, misalnya HP, merupakan sarana mendekatkan yang jauh, namun juga manjauhkan yang dekat. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun yang lokasinya berjauhan. Namun bila kita lihat sekumpulan anak muda di suatu tempat dan mereka membawa HP masing-masing, maka yang terjadi adalah perkumpulan dalam ‘kebisuan’. Mengapa? Karena mereka sibuk dengan HP masing-masing, nyaris tanpa komunikasi lisan.

Orangtua harus mampu menyikapi anak-anak dalam menggunakan gawai, terutama anak-anak remaja dan usia SD. Salah satunya dengan memperketat waktu menggunakan gawai. Jangan sampai mereka terserang candu gawai yang membuat prestasi belajarnya menurun. Bahkan kecanduan gawai dapat menyebabkan gangguan mental.

Menurut Psikolog Klinis RSJD Amino Gondohutomo Semarang, Sri Mulyani, orang yang ketergantungan gawai dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan, dapat digolongkan dalam Diagnostic and Statistical of Mental Disorder (DSM). Yaitu mengalami gangguan mental.

Sehingga para orang tua harus memahamkan kepada anak-anaknya untuk membagi waktu antara dunia game dan dunia nyata. Kapan waktu bermain, dan kapan waktu melakukan aktivitas lainnya termasuk belajar.

Ancaman Serius

Fenomena anak-anak kecanduan gawai semakin tampak dalam beberapa tahun terakhir. Kecanduan gawai merupakan ancaman serius bagi anak-anak dan remaja. Penggunaan gawai bagi remaja cenderung untuk bersenang-senang dalam hal ini lebih ke hal negatif. Sangat sedikit yang menggunakan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan yang bersifat positif.

Memang kita tidak dapat membendung arus informasi dan teknologi terutama dunia internet. Namun setidaknya dapat menyikapi dengan bijak bagaimana informasi dan teknologi tersebut bermanfaat dan membantu manusia ke arah yang lebih baik.

Dewasa ini banyak yang terbalik menyikapi adanya gawai. Baik tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Mereka lebih ‘diperbudak gawai’ dibanding ‘memanfaatkan’ gawai untuk kehidupan mereka.

Karena kecanduan gawai sudah mengkuatirkan, maka orangtua harus sadar akan ancaman tersebut. Bersikap bijak mengawasi anak-anak bermain gawai lebih baik daripada pusing anak kita harus menjalani perawatan dan terapi akibat kecanduan gawai. (*)

Narwan Siedoo

Apa Tanggapan Anda ?