Daerah

Posko Pustaka, Membangun Literasi di Tempat Minoritas Sadar Pendidikan

 

Siedoo, Dibentuk sejak Juli 2018, Posko Pustaka memulai perjalanan mengembangkan literasi dan pendidikan non-formal. Berdiri di lingkungan yang notabene minim kesadaran perihal pendidikan, justru menjadi pelecut semangat bagi Sri Sulastri, orang yang pertama mencetuskan ide sekaligus membentuk taman baca di tempat tinggalnya.

Termotivasi dari taman baca lain, dimana pengelolanya bukan dari kalangan orang berpendidikan tinggi, tapi tetap punya kontribusi dalam mengembangkan generasi muda. Posko Pustaka terletak di Dusun Sembungan, Desa Gondongsari, Kecamatn Pakis, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

“Dari niat itu, akhirnya kami berdiskusi untuk membuat annual activity ke anak-anak TK dan SD. Waktu itu rencana hanya untuk membantu adik-adik belajar calistung. Kemudian terselip ide untuk menggunakan posko dusun sebagai tempat adik-adik belajar,” akunya.

Awal berdirinya taman baca tidak lepas dari keresahan para pengurus Posko Pustaka. Keberadaan kalangan intelektual yang belum bisa dirasakan langsung oleh masyakrakat Dusun Sembungan.

Dengan memanfaatkan posko dusun yang tidak terpakai, pengurus taman baca menyulap menjadi perpustakaan mini sebagai tempat berkumpul dan belajar.

Masih Minim Donatur

Tak semua pihak terkait pendidikan benar-benar mendukung kegiatan literasi. Terlebih di kawasan yang belum benar-benar tersentuh dari segi pendidikan formalnya. Faslititas serta kelengkapan taman baca masih didukung dari donatur luar yang sebagian besar adalah mahasiswa.

Lastri, sapaan akrabnya, menurutkan, buku dan alat tulis atau kelengkapan-kelengkapan kegiatan didapat dari donatur umum, dan belum tersentuh dari pemerintah daerah.

“Kalau donatur tetap masih belum ada, kami lebih sering menerima bantuan dari rekan-rekan mahasiswa atau aktivis literasi. Jadi siapapun yang ingin membantu kami tetap menerima,” jelas wanita kelahiran 1997 ini.

Lambat Laun Direspons Positif Warga

Awal berjalannya Posko Pustaka tidak serta merta berjalan mulus. Beberapa masyarakat ketika awal didirikan, menganggap taman baca hanya ajang mencari perhatian lebih. Bukan dilihat sebagai kegiatan yang positif.

“Dulu awal mulai aktif kegiatan, memang tanggapan masyarakat masih terkesan miring. Belum mengananggap taman baca sebagai hal yang positif,” tambahnya.

Masyarakat sebagian besar belum sadar akan pentingnya pendidikan formal, karena rata-rata mata pencaharian merupakan petani.

Kemudian menganggap taman baca bukan hal yang produktif. Terlebih lagi kegiatan taman baca yang hanya dilaksanakan setiap hari minggu, menambah kesan miring. Sebab, biasanya hari Minggu diangap waktunya anak-anak untuk membantu orang tua bekerja.

Namun, setelah lebih dari 1 tahun berdiri, respons dari masyarakat sekitar berangsur-angsur positif. Bahkan mulai sadar jika pendidikan formal maupun non-formal adalah hal yang penting.

“Efeknya itu baru dirasakan setelah 1 tahun berdiri. Kalau dulu itu kegiatan kita dianggap tidak positif, sekarang justru beberapa orang tua yang anaknya biasa belajar di taman baca, sering menanyakan kegiatan kami,” ujarnya.

Lastri juga menambahkan, efek dari adanya taman baca, ketika hari Minggu tidak ada kegiatan, masyarakat justru sering bertanya.

“Ada beberapa hal yang menarik menurut saya, dulu waktu awal kan respon masyarakat masih terkesan negatif. Sekarang ini, misal hari Minggu tidak ada kegiatan, biasanya ada ibu-ibu yang tanya, kok hari Minggu kemarin tidak ada kegiatan ya? Begitu,” paparnya.

“Apalagi kalau ada yang tanya ke anaknya, PR-nya sudah dikerjakan? Di bawa ke perpus aja. Jadi sekarang hal seperti itu jadi pelecut semangat,” tambahnya.

Mengedepankan Literasi dan Softskill

Sesuai dengan namanya taman baca, kegiatan yang dikedepankan memang lebih pada literasi. Dengan adanya fasilitas buku bacaan yang sekarang dirasa lumayan, daripada ketika awal berdiri. Maka fokus pada membudayakan membaca adalah suatu prioritas.

”Jadi kita ada satu agenda menarik. Seperti membuat suatu tantangan buat anak-anak yang belajar di Posko Pustaka. Misalnya saja, siapa yang paling banyak menyelesaikan buku bacaan paling banyak selama satu bulan, nanti akan di beri reward tententu. Jadi anak-anak juga punya semangat lebih buat membaca,” akunya.

Selain perihal literasi, kegiatan lain di Posko Pustaka lebih pada yang membangun dan mengembangankan softskill. Berdiskusi, permainan yang punya daya intelektual, juga melatih kemampuan bermusik dan bercerita.

Wanita lulusan S1 pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini juga menambahkan, nantinya akan ada rencana yang melibatkan sesama taman baca di wilayahnya. Agenda yang akan dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan.

“Rencananya besok kedepan, ingin ada satu agenda bareng sesama taman baca di Kecamatan pakis. Semacam pentas seni atau festival, biar anak-anak juga makin semangat,” tutupnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?