Advertorial Daerah

PAUD IT Syaffa 2 Kota Magelang Terapkan Metode Sentra dan Proyek, Seperti Apa?

MAGELANG  – Metode yang digunakan dalam proses edukasi merupakan suatu hal yang utama dan penting. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Islam Terpadu (IT) Asy Syaffa 2 Kota Magelang, Jawa Tengah mengedukasi anak didiknya dengan metode sentra untuk kelas play group dan metode proyek untuk kelas taman kanak-kanak (TK).

“Jadi belajarnya itu misalnya sentra balok, sentra matematika, sentra persiapan. Ketika di sentra balok, anak – anak akan fokus pada permainan – permainan balok, konsep membangunnya akan terkait alatnya adalah balok. Di dalam sentra, anak lebih mengenal benda secara konkrit,” kata Kepala PAUD IT Syaffa 2, Siti Banatun Nafiah, S.Pd.

Dirinya menerangkan, sentra persiapan berisi baca hitung tulis. Anak didik lebih banyak dilatih untuk mengenal angka dan huruf. Tetapi dengan ciri khas dari BCCT (Beyond Centers and Circles Time) yang sekarang reinkarnasinya menjadi sentra. Anak akan mengenal angka dan huruf dengan bermain.

Guru akan menyiapkan berbagai alat peraga yang terdapat huruf. Angka atau tulisan yang disajikan dalam bentuk permainan. Misalnya anak memilih logo yang ada tulisannya, kemudian akan menata dan anak akan terlatih saraf motoriknya.

“Secara otomatis ketika anak setiap hari mengenal simbol huruf, lama - lama anak akan bisa merangkainya sendiri. Jadi kita tidak mengajarkan dengan mengeja, itu sangat konvensional dan tidak melatih anak untuk berfikit kreatif,” tuturnya.

Khusus untuk kelas TK diterapkan metode proyek. Tujuannya agar anak berfikir sistematis dan tuntas. Pada proses teknisnya diawali dari niat anak ingin membuat apa. Misalnya anak berniat membuat rumah, maka dari awal anak akan mencoba untuk explore tentang bentuk rumah yang sudah ada. Kemudian anak akan menemukan bentuk rumah yang diinginkannya.

Explore-nya dengan menonton film atau melihat buku yang semua tentang rumah. Setelah itu planning, anak diajak diskusi untuk memutuskan seperti apa rumah yang diinginkan. Misalnya rumah gadang,” jelasnya.

Ketika planning anak diajari untuk merancangnya, seperti dindingnya akan memakai kardus dan kebutuhan bahan lain yang kemudian ditulis dalam daftar bahan alat. Anak didik dibiarkan untuk memilih siapa saja untuk menjadi satu kelompok.

Tahap ketiganya adalah doing, anak didik akan bekerja sesuai dengan rencana pada tahap planning. Reflecting atau presentasi menjadi tahap terakhir, setiap kelompok akan maju di depan kelas dan mempresentasikan hasil buatannya. Anak – anak menjelaskan bahan yang digunakan serta keterangan tinggi dan luasnya.

“Anak – anak di situ belajar matematika. Jadi belajar matematika itu tidak melulu menulis angka, tetapi ketika anak – anak melakukan, otomatis konsep matematika dan konsep fisika kan masuk semua. Tanpa anak itu menyadari, tapi dia melakukan. Manusia yang belajarnya bagus, belajarnya dengan melakukan itu lebih menempel,” terangnya.

Metode proyek memiliki kemanfaatan, anak bisa saling berkomunikasi dengan temannya. Keinginan untuk memimpin menjadi muncul dan akan terlihat anak yang bisa memimpin atau siapa yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut juga merupakan latihan berorganisasi untuk anak. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?