Opini

Meletakkan Harapan Kemajuan Pendidikan Indonesia di Pundak Nadiem Makarim

Siedoo, Mungkin saatnya kemajuan dunia pendidikan Indonesia dinahkodai oleh seorang menteri yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan. Atau bisa jadi berharap mempercepat digitalisasi pendidikan dengan dipimpin ahli dalam dunia internet.

Siapa pun yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Indonesia pasti memiliki visi ke depan yang cemerlang untuk diaplikasikan ke seluruh Tanah Air. Hal ini agar pendidikan Indonesia lebih cepat mengalami kemajuan.

Pengumuman susunan Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10/2019) disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam susunan Kabinet Jokowi Jilid II tersebut nama Nadiem Makarim disebut sebagai Mendikbud RI periode 2019-2024.

Ini sangat menarik, mengingat Nadiem Makarim sebelumnya terkenal sebagai CEO Go-Jek yang mendunia, juga platform lain berbasis internet. Maka prediksi penunjukan Nadiem sebagai Mendikbud cenderung berkaitan dengan digitalisasi pendidikan.

Di pundak pria kelahiran 4 Juli 1984 itu berharap dunia pendidikan Indonesia akan lebih maju. Sebagai Mendikbud, Nadiem perlu memperhatikan ‘kepelikan’ pendidikan Indonesia. Sehingga kita pun turut berharap inovasi-inovasi dari menteri yang lulusan S2 Harvard Business School ini.

Berjalan Seiring

Menurut penulis, melihat kemajuan pendidikan sejauh ini tidak dapat dipungkiri telah mengalami kemajuan yang signifikan. Terbukti dengan banyaknya prestasi dalam dunia pendidikan di kancah internasional. Termasuk penelitian-penelitian dari anak-anak Indonesia yang diakui dunia.

Namun tampaknya hal itu lebih cenderung baru di sisi pengajaran, kepandaian anak atau kecerdasan otak (IQ). Prestasi itu pun belum menyeluruh untuk siswa di tanah air, hanya beberapa yang memang punya otak cerdas. Sementara seluruh siswa ke depan nantinya mereka sama-sama menjadi generasi penerus bangsa, yang cerdas atau belum cerdas.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang bisa mengolah otak namun juga berbudipekerti luhur. Artinya tidak hanya pintar atau cerdas, namun juga berkarakter. Sementara penanaman karakter tidak dapat dilakukan secara digital, namun melalui pendidikan, bukan sekedar pengajaran. Sehingga pengajaran harus berjalan seiring dengan pendidikan.

Guru Tidak Dapat Digantikan oleh Teknologi

Harus disadari bersama bahwa teknologi itu tidak bisa mendidik, hanya bisa mengajar. Namun teknologi merupakan hasil dari pendidikan. Karena dengan pendidikan siswa bisa menjadi pintar, cerdas, berbudipekerti luhur.

Maka pendidikan di tanah air perlu terus ditingkatkan dengan tidak meninggalkan karakter Indonesia sebagai bangsa yang memiliki adat ketimuran yang penuh sopan santun dan tatakrama.

Untuk menghasilkan generasi seperti di atas, sangat diperlukan guru, perangkat pendidikan, fasilitas pendidikan, dan dana pendidikan. Kita berharap Mendikbud Nadiem Makarim memperhatikan hal itu.

Revisi Kurikulum

Hasil dari penerapan kurikulum ‘adopsi’ luar negeri harus ditinjau kembali. Mengingat selama ini kurikulum tersebut lebih mengedepankan ‘pengajaran’ bukan ‘pendidikan’.

Disebutkan di atas, guru menjadi hal utama dalam pendidikan, namun penerapan kurikulum ala luar negeri lebih membuat guru bersikap apatis terhadap tuntutan kurikulum. “Siswa menjadi nakal dan tidak berkarakter tidak masalah, yang penting nilainya bagus.”

Hal itu sangat memprihatinkan. Di mana berita tawuran antarsiswa, antarwarga, tinadkan anarkis, penyalahgunaan narkoba, sering terjadi. Tentu hal itu didukung oleh kurangnya budi pekerti mereka, termasuk pendidikan Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia.

Ke depan Mendikbud Nadiem harus lebih menyeimbangkan antara pengajaran dan pendidikan. Kurikulum dikembangkan dari pribumi yang sarat dengan kearifan lokal dan karakter. Agar ke depan tumbuh generasi cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di kancah dunia. Bukan meniru generasi nagara lain yang hanya pandai namun tidak berbudi pekerti. (*)

Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran,

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?