Nasional

Sekolah Rusak Terdampak Kerusuhan Wamena akan Direhabilitasi

WAMENA – Dari empat sekolah ini, TK Mutiara Hati, SMP YPPK St. Thomas, SMPN 1 Wamena, dan SMAN 1 Wamena, SMP YPPK St. Thomas menjadi sekolah terparah yang mengalami kerusakan dampak dari kerusuhan Wamena, Papua, pada 23 September lalu. Salah satu bangunannya, ruangan kepala sekolah habis dibakar massa.

Untuk menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar, Mendikbud Muhadjir Effendy berkomitmen untuk merehabilitasi sarana dan prasarana sekolah yang rusak setelah kerusuhan tersebut.

"Beberapa fasilitas yang mengalami kerusakan parah akan segera kita tangani, kalau kerusakannya ringan saya kira bisa ditangani Pemkab Jayawijaya," ujar Mendikbud usai meninjau SMP YPPK St. Thomas, Wamena.

Setelah meninjau SMP YPKK St. Thomas, Mendikbud melanjutkan kunjungannya ke SMP Negeri 1 Wamena yang juga turut dirusak oleh sekelompok massa. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, di SMPN 1 Wamena aktivitas belajar mengajar sudah berjalan meski belum semua siswa dan guru yang hadir.

Kepala SMPN 1 Wamena, Yemima Kopeuw, menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sudah kembali normal sejak tanggal 7 Oktober 2019. Namun, dari total 1.097 murid hingga saat ini baru 241 siswa yang kembali ke sekolah.

"Aktivitas sekolah mulai 7 Oktober, kegiatan belum full belajar mengajar, masih diselingi dengan permainan. Total guru 54, yang masuk baru 24 orang, yang tidak hadir masih menenangkan diri di luar Wamena," katanya.

Di sekolah tersebut, Mendikbud mengatakan akan merehabilitasi bangunan sekolah dengan menggunakan alokasi anggaran tahun 2020.

"Sebagai bentuk apresiasi saya kepada SMPN 1 Wamena, sekolah negeri tertua di kota Wamena dan telah meluluskan belasan ribu siswa, saya akan rehab bangunan sekolah ini. Akan kita anggarkan tahun depan," ujar Mendikbud seraya diikuti tepuk tangan.

Sebelum tiba di Bandara Baliem Wamena, menutup kunjungannya di Papua Mendikbud menjenguk Frans Situbani, siswa SMP Negeri 1 Wamena di RSUD Wamena. Frans mengalami luka bakar saat kerusuhan terjadi di Wamena.

Frans mengaku, saat itu dirinya sedang berada di dekat sekolah dan diajak oleh dua orang tak dikenal untuk ikut demo, tetapi dirinya menolak. "Saya di dekat sekolah, ada dua orang menggunakan penutup kepala ajak saya demo. Terus saya bilang saya nggak mau takut, saya pulang," ungkapnya.

Melihat kejadian ini, Mendikbud mengapresiasi satuan pendidikan di Kota Wamena karena tidak ada sekolah yang ikut terprovokasi. "Saya kira ini sudah bagus karena tidak satu pun sekolah yang ikut terprovokasi. Jadi perlu ada ketahanan sekolah. Jangan sampai anak-anak bisa dimobilisasi untuk melakukan kegiatan yang anarkis," ujarnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?