Ruang kelas yang ambruk di SMPN 2 Plumbon, Cirebon. l foto : tribunnews.com

Nasional

Kelas Ambruk di SMPN 2 Plumbon Cirebon Segera Direhabilitasi Pemerintah Pusat


JABAR – Bangunan kelas yang ambruk di SMPN 2 Plumbon 2, Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat menyedot perhatian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), akan segera merehabilitasi bangunan tersebut. Upaya tersebut dilakukan untuk segera mengembalikan proses belajar mengajar.

Direktur Pembinaan SMP, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) Kemendikbud, Poppy Dewi Puspitawati mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan KemenPUPR untuk melakukan tindakan percepatan (rehabilitasi), karena berada di situasi krusial, yaitu adanya kelas yang ambruk.

Dijelaskan, koordinasi terus dilakukan secara intensif. Kemendikbud juga menyediakan tim teknis yang fokus dalam penanganan rehabilitasi sekolah di daerah tersebut.

“Kami sudah bersurat resmi ke KemenPUPR agar segera melakukan rehab sekolah. Kami juga buat tim teknis di Subdit Kelembagaan Sarana dan Prasarana yang mengurus proses rehabilitasi sekolah tersebut,” ujarnya dilansir dari kemendikbud.go.id.

Tidak lama setelah dua ruang kelas di sekolah tersebut ambruk, Jumat (4/10), Poppy langsung turun lapangan ke sekolah tersebut dan meninjau bangunan kelas yang ambruk, Selasa (10/10/2019).

Selain mengunjungi sekolah tersebut, Poppy juga mengunjungi Rumah Sakit Mitra Plumbon untuk melihat kondisi guru dan siswa yang menjadi korban ambruknya bangunan kelas tersebut.

“Saat saya berkunjung masih ada sekitar lima siswa dan satu guru yang masih di rawat di sekolah tersebut,” terang Poppy.

Melihat kondisi ruang kelas yang ambruk tersebut, Kemendikbud segera memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan para siswa, dan guru.

“Kami tiba di sana langsung meninjau lokasi, dan ruang sekolah lain di sekolah tersebut, bantuan membersihkan puing juga kami lakukan,” jelasnya.

Peristiwa ambruknya gedung kelas tersebut sempat membuat tiga korban mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Mitra Plumbon.

"Yaitu Ibu (guru) Yeti, Exel dan Ainun," kata Humas SMPN 2 Plumbon Omang A Rohman dilansir dari medcom.id.

Menurut Omang, khusus Exel, siswa kelas VII itu akan menjalani operasi. Kondisi kaki Exel yang tertima reruntuhan membuat dirinya perlu dipasangi pen untuk menopang tulang.

"Operasi di sekitar kaki," kata Omang.

Sedangkan untuk guru Yeti, lanjut dia, kondisinya sudah terus membaik. Omang menyebut rekan kerjanya itu sudah mulai belajar berjalan, namun masih merasakan sakit di bagian dada.

Omang menambahkan terkait biaya perawatan dan pengobatan korban, semuanya ditanggung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon. Ia juga meminta doa untuk kesembuhan murid dan rekan gurunya tersebut.

Dilansir dari liputan6.com, konstruksi atap bangunan yang sudah tidak layak diduga kuat menjadi penyebab runtuhnya dua kelas itu. Salah seorang guru SMPN 2 Plumbon Cirebon, Iin Indriyani menyatakan, kejadian runtuhnya bangunan kelas terbilang singkat bahkan tidak diduga.

Banyak korban yang tidak sempat menyelamatkan diri hingga tertimpa reruntuhan material bangunan. Sebagian siswa yang duduk berdekatan dengan pintu keluar bisa berlari keluar meski sempat tertimpa reruntuhan.

“Awalnya terdengar bunyi gemuruh keras seperti reruntuhan itu saya dengar dari ruangan guru. Setelah tahu bangunan runtuh, saya dan guru lain dibantu petugas sekolah bantu selamatkan korban dan yang luka berat langsung dibawa ke RS Mitra Plumbon Cirebon," kata Iin. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?