Advertorial Daerah

Dongkrak Life Skill, Siswa SMK Muhammadiyah 1 Mertoyudan Dikirim ke LPK

MAGELANG -  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memberikan life skill kepada siswanya. Salah satunya dengan mengirim tujuh siswanya ke Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK), 3 hingga 7 September 2019. Hal tersebut dilakukan untuk menambah keterampilan siswa sebagai bekal menuju dunia kerja.

“Materi yang diberikan kepada siswa diantaranya etika dan kepribadian, pengetahuan otomotif, penggunaan alat – alat otomotif, teori dasar sepeda motor, praktik perbaikan sepeda motor dan pengujian. Setelah menjalani enam hal tersebut, siswa nantinya akan mendapatkan sertifikat pelatihan sepeda motor,” kata Kaprodi Teknik Kendaraan Ringan SMK Muhammadiyah 1, Abu Isfanto, A.Md., Pd.

Adapun pesertanya dari masyarakat khusus Kabupaten Magelang. Alokasi jumlah hanya 16 peserta dengan usia pencari kerja antara usia 17 sampai 35 tahun.

Siswa diberi pelatihan teori dan praktik selama 240 jam di LPK Manunggal Oto Mandiri sebagai satu-satunya LPK di Kabupaten Magelang yang memiliki kejuruan otomotif, sudah berizin di Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Pendidikan.

“Karena saya berada di SMK Muhammadiyah 1 Kabupaten Magelang, kita sinergikan siswa yang memenuhi syarat melalui program itu dan kita dapat tujuh anak,” kata Kaprodi yang juga Pimpinan LPK Manunggal Oto Mandiri tersebut.

Pada tahun anggaran sekarang LPK Manunggal secara seleksi nasional melalui Departemen Tenaga Kerja mendapat kesempatan dan dana bantuan untuk melatih di bidang teknik sepeda motor, melalui induk wilayah pembinaan Balai Latihan Kerja (BLK) Surakarta.

“Kami mencoba melihat potensi – potensi anak dan membekalinya dengan life skill. Sehingga kesempatan itu tidak kami sia-siakan, kami menyeleksi anak yang memang berminat di bidang sepeda motor dan kita kirim kesana untuk mengikuti pelatihan,” kata Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kabupaten Magelang, Ekosanti Yugopurnomo, S.T.

Eko mengimbuhkan, jika nanti anak – anak tidak bekerja di bidang Teknik Kendaraan Ringan, maka anak – anak tersebut sudah dibekali dengan keahlian di bidang sepeda motor. Harapannya anak – anak bisa berwirausaha, karena misalkan membuka usaha bengkel motor tentunya tidak seberat membuka usaha bengkel mobil.

Hal tersebut untuk mengatasi jika terjadi ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dengan penerimaan jumlah kebutuhan tenaga kerja.

“Tidak menutup kemungkinan, bisa jadi anak – anak kami berikan pendidikan dan latihan yang lain seperti menjahit. Jadi siswa SMK diharapkan selain punya kompetensi utama di sekolah, mereka juga punya kompetensi yang lain. Kita akan menciptakan wirausaha yang banyak,” tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?