Nasional

Ada Kabut Asap, Ini Kata Orang UGM Cara Memakai Masker

YOGYAKARTA - Belakangan ini, kabut asap masih menghiasi dalam negeri. Seperti di sejumlah daerah di Pulau Sumatra dan juga Pulau Kalimantan. Kabut asap tersebut tetap perlu diwaspadai. Sebab, membahayakan bagi tubuh manusia.

“Kabut asap ini perlu diwaspadai terutama bagi kelompok rentan,” kata Internis Pulmonologist Universitas Gaja Mada (UGM), dr. Sumardi, Sp.PD-KP melansir dari ugm.ac.id.

Dijelaskan, masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis seperti asma, TBC maupun bekas TBC, batuk berdahak, serta penyakit paru kronis karena merokok merupakan kelompok yang rentan terkena dampak kabut asap. Paparan kabut asap tersebut akan semakin memperburuk penyakit yang diderita.

Pakar penyakit dalam spesialis paru-paru ini menyebutkan kelompok rentan lainnya adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Bagi orang tua atau lansia, paparan kabut asap ini bisa memicu penyakit bawaan.

“Misalnya pada lansia yang punya penyakit jantung bisa kambuh akibat terpapar kabut asap,” jelasnya.

Kabut asap ini juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Bahkan, kecerdasan anak juga bisa terganggu sebagai dampak dari perkembangan otak yang terganggu.

Paparan kabut asap ini juga membahayakan ibu hamil. Sebab, akan mudah mengalami gangguan hipoksia yang menyebabkan kurangnya pasokan oksigen dalam tubuh. Berkurangnya  pasokan oksigen ini akan mengganggu pertumbuhan janin.

“Perkembangan otak maupun organnya terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan lahir rendah,” terangnya.

Karenanya saat terjadi kabut asap, Mardi mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker. Dia pun menyarankan  agar bagian luar masker juga dibasahi dengan air bersih sebelum dipakai agar partikel-partikel polusi di udara bisa langsung menempel di masker.

“Gunakan masker dan jika mulai terasa sesak segera ganti,” katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta warga yang berada di wilayah terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menghindari kontak langsung dengan air hujan.

Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi BMKG, Adi Ripaldi menyebut, air tersebut dapat mengakibatkan kulit gatal-gatal, karena mengandung kadar zat asam yang tinggi.

"Selain asap ada partikel debu di wilayah tersebut, sehingga ketika terjadi hujan itu bersifat asam. Artinya berbahaya bagi kesehatan," ujarnya dilansir dari liputan6.com.

"Imbauan saya ya hindari kontak seminimal mungkin saat hujan. Air hujan ini ada mengandung kadar asam tinggi dan bisa membahayakan kulit," sambungnya. (Siedoo)

 

 

 

Apa Tanggapan Anda ?