Opini

Guru Ideal, Mengajar Sekaligus Mendidik Murid

Siedoo, Guru adalah sebuah pengabdian yang sangat mulia. Baik guru secara formal yang mengajar di sekolahan atau guru non - formal yang mengajarkan tentang ilmu dan pengetahuan di luar formalitas pendidikan sekolah.

Tugas guru di sekolah adalah mengajar dan mendidik. Dua kata tersebut sekilas mirip, tapi berbeda makna. Dalam bahasa jawa, guru itu dimaknai digugu dan ditiru.

Digugu artinya menjadi tempat menimba ilmu atau tempat bertanya. Ditiru artinya diikuti segala tindak tanduknya. Ada pepatah lama yang mengatakan, -guru kencing berdiri, murid kencing berlari-. Begitu sangat berpengaruh sifat, sikap dan perilaku guru terhadap murid atau anak didiknya.

Guru pengajar, adalah guru yang memberikan pengertian atau pelajaran agar murid mengetahui tentang sesuatu. Pengajar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata ajar, yang artinya petunjuk kepada orang supaya diketahui (diikuti).

Guru pendidik, adalah guru yang menanamkan akhlak mulia serta budi pekerti. Pendidik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dati kata didik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) tentang akhlak dan kecerdasan pikiran.

Guru tipe pengajar biasanya orangnya terlalu formal, hanya mengedepankan masalah akademik semata. Guru tipe ini cenderung galak, sombong, kalau berbicara jarang mempertimbangan perasaan murid.

Karena sifat tersebut murid lebih banyak bosan kalau diajar oleh guru tersebut. Bahkan banyak murid yang tidak suka dengan guru tipe pengajar ini.

Guru tipe pendidik biasanya orangnya rendah hati, bijak dan santun dalam membimbing atau memberi contoh kepada murid-muridnya. Rasa ngemong kepada anak didik dikedepankan. Saling asah, asih, asuh menjadi landasan guru pendidik mendidik murid-muridnya.

Guru pendidik ini biasanya disukai sama murid-muridnya. Bahkan akan terkesan sampai kapanpun, meskipun sudah lulus dari sekolah tersebut.

Dari pemaparan di atas, yang paling ideal adalah guru yang lengkap sifatnya. Yaitu, guru yang dapat mengajar sekaligus mendidik murid-muridnya.

Guru yang pintar dan cerdas dibutuhkan karena memang untuk mengolah akal pikiran. Tetapi harus dengan sikap yang bijak, temuwo dan bisa ngemong supaya anak didik juga menjadi murid yang cerdas, serta berakhlak mulia.

Seperti ada sedikit cerita di salah satu sekolah favorit di Kabupaten Magelang. Ada seorang guru yang sangat pandai bahkan sudah bergelar master tetapi caranya mendidik dan "ngemong" muridnya jauh dari kata bijak serta santun.

Kadang niat baik tetapi disampaikan dengan tidak baik, hasilnya akan tidak baik. Diucapkan dengan nada keras, menyakitkan serta menyinggung perasaan murid serta wali muridnya.

Guru membuat menangis muridnya karena mengajar dan mendidik, itu tidak menjadi masalah karena itu salah satu cara pembentukan karakter dan penguatan mental. Tetapi kata-kata seorang guru yang menyakiti perasaan murid serta merendahkan profesi atau pekerjaan orang tua murid itu sangat tidak pantas diucapkan oleh guru pendidik.

Di akhir tulisan ini, marilah kita selalu introspeksi diri supaya kita dapat menjadi insan yang lebih baik. Pada dasarnya, kita semua adalah guru yang menjalankan fungsi guru kepada orang-orang di sekitar kita.

Jadilah pengajar dan pendidik untuk siapapun, karena ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah kita yang akan terus mengalir pahalanya. (*)

 

 

*Anang Imamuddin

Pemerhati Pendidikan dari Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?