Ilustrasi kamus. l sumber : instaphenomenons.me.

Nasional

Zaman Teknologi Informasi Serba Cepat Menjadi Tantangan Leksikograf


JAKARTA -Untuk mendukung peningkatan literasi, kamus memiliki peranan penting sebagai penyedia informasi dan ilmu pengetahuan sekaligus sebagai rujukan serta alat untuk melestarikan bahasa. Peningkatan kualitas dan kuantitas kamus merupakan langkah strategis dalam mendukung gerakan literasi yang akan berujung pada peningkatan kualitas SDM.

“Peranan para leksikograf (penyusun kamus) menjadi sangat penting untuk Indonesia. Saya berharap ada perencanaan yang sungguh-sungguh untuk menyiapkan tenaga-tenaga ahli di bidang leksikografi ini. Terutama, untuk mengimbangi atau mempercepat kompilasi dan kodifikasi terhadap bahasa-bahasa yang sekarang masih menjadi bahasa lisan di kalangan masyarakat kita,” imbuh Mendikbud Muhadjir Effendy.

Menurut Mendikbud, kemajuan teknologi informasi saat ini harus disikapi para leksikograf dengan bijaksana. Tantangan yang lebih serius sebetulnya adalah mulai bergesernya dunia lisan menjadi dunia tulisan. Dalam dunia tulisan ditemukan teknologi yang sangat modern berupa kertas.

“Sekarang kertas sudah tidak modern lagi dan mulai ditinggalkan menjadi dunia elektronik, dunia siber, dunia virtual. Hal ini tentu saja harus menjadi bahan diskusi para leksikograf, bagaimana menghadapi tantangan terbaru saat ini. Sekarang ini untuk mengakses kosakata tidak sesulit dahulu yang memerlukan kamus tebal. Tapi, cukup membawa satu ponsel bisa menjelajah dalam waktu yang singkat dan bisa memeriksa kembali dari berbagai sumber,” bebernya.

Kemajuan teknologi informasi, lanjut Mendikbud, di satu sisi memang bagus. Namun di sisi lain, secara mental membuat manusia menjadi ketergantungan. Jadi sebetulnya kemudahan itu tidak selalu baik untuk perkembangan bangsa. Sesuatu kalau tidak fungsional akan hilang tapi kalau fungsional maka akan terus bertahan.

“Sekarang ini fungsi otak (ingatan) kita sudah tidak terlalu berfungsi karena ingatan kita sudah diambil alih oleh komputer. Kecerdasan kita juga tidak terlalu berfungsi karena sudah diambil oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence),” jelasnya.

Sekarang fungsi otak, lanjutnya, kita hanya untuk meng-coding dan mencari kata kunci karena untuk kata lengkapnya sudah disediakan di dunia maya dalam bentuk komputasi awan (cloud computing) yang daya tampungnya tak terbatas.

“Kita punya Kamus Bahasa Indonesia yang tebal dan kemudian masuk ke elektronik dalam bentuk kamus daring. Hal ini luar biasa dan perkembangan ini merupakan tantangan bagi para leksikograf,” jelas Mendikbud.

Saat ini dunia industri kreatif sangat didorong untuk maju. Di satu sisi ada industri massal yang berbasis pada industri 4.0 tetapi tetap ada kebutuhan akan karya kreatif.

“Setiap orang ingin memiliki keunikan dan eksklusivitas masing-masing dan ini merupakan pasar,” tegasnya.

Menurutnya, leksikograf adalah termasuk pekerjaan kreatif yang tidak mungkin diganti oleh kecerdasan buatan dan berbagai macam teknologi pendukungnya. Namun mau tidak mau harus bersinggungan dengan teknologi yang baru.

“Mudah-mudahan ini bisa memberi sedikit wawasan untuk dijadikan bahan renungan para leksikograf. Terutama, yang muda-muda karena masa depan leksikografi ada di tangan yang muda-muda ini. Tentu saja yang senior harus menularkan pengalaman yang telah didapat selama ini dan yang muda harus dapat meneruskan,” pungkas Mendikbud. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang