Siswa dan Pembina Hidroponik (Muhammad Atik) menunjukkan hasil tanaman hidroponik sayuran pakcoy. | foto : Fauzi Bayu Sejati | Siedoo

Advertorial Inovasi

Program Hidroponik dari SMPN 3 Magelang, Nyata Memberikan Manfaat


MAGELANG  - Selain bergerak dalam bidang edukasi akademik, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Magelang, Jawa Tengah  juga menerapkan edukasi non-akademik, dalam keterampilan. Edukasi pengolahan limbah sampah dan keterampilan bertani dengan metode hidroponik, diterapkan menjadi bagian dalam ekstrakurikuler kewirausahaan di lingkup sekolah.

“Jadi nama judulnya itu ektrakurikuler kewirausahaan, disitu ada dua pilihan. Anak bisa memilih apotek hidup yang diisi pelatihan hidroponik atau bank sampah,” kata Waka Kesiswaan SMP N 3 Kota Magelang Johan Fitriyanto, S.Pd.

Johan menjelaskan, sekolah ingin memunculkan suatu hal yang lain, terkait Sekolah Adiwiyata dengan penanaman menggunakan media selain tanah. Kegiatan tersebut mulai dirintis sejak 2017 lalu dan masih berjalan sampai sekarang. Adapun jenis sayur - sayuran yang ditanam dengan metode hidroponik seperti pakcoy, kubis dan kangkung.

Sebelumnya, sempat ada pelatihan di akhir 2017 lalu yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian. Kemudian berjalan secara berkelanjutan hingga akhirnya dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Melalui kegiatan ini, sekolah sudah merasakan berbagai manfaat. Siswa dapat menyerap bagaimana menanam dengan cara hidroponik, sebuah ide berkebun tapi dengan lahan yang minim.

Selain itu, hasil panen dari tanaman hidroponik tersebut dijual dan hasilnya untuk kas kelas. Kemudian kas dapat digunakan untuk pengembangan kegiatan - kegiatan selanjutnya.

“Kita ajarkan kepada anaka-anak teknik hidroponik dari yang paling simple sampai yang paling sepsifik. Salah satunya, kita juga tidak meninggalkan unsur memanfaatkan limbah. Selain kita belajar hidroponik, disisi lain kita memanfaatkan limbah plastik untuk hal yang lebih bermanfaat dan ekonomis, melalui sistem hidroponik itu,” urai Pembina Hidroponik SMP N 3 Kota Magelang Muhammad Atik.

Sementara itu, untuk program bank sampah, setiap kelas disediakan tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Ada sampah organik dan anorganik. Setiap akhir pekan atau akhir bulan, disetorkan dan ditampung ke bank sampah siswa, yang sebagaian besar dari pengurus OSIS.

“Awalnya ketika anak – anak berkegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), mereka sudah diberi tahu cara memilah sampah. Hal itu di kegiatan kepramukaan juga ada,” imbuh Pembina Pengolahan Limbah Bank Sampah SMP N 3 Kota Magelang Nur Pratiwi, S.Pd.

Dijelaskan bahwa, selama ini SMP N 3 Kota Magelang bekerja sama dengan bank sampah Pemerintah Kota Magelang. Setiap kali sampah sudah terkumpul banyak, bank sampah kota mengambil sampah terebut.

“Sedangkan, ketika sudah dijual itu kan harusnya sampah sudah dipilah. Kertas itu ada berbagai macam, ada kertas putih, buram dan kardus. Gelas pun dibagi, ada yang bening dan berwarna. Jadi tugas dari anak – anak setiap minggunya memilah mana yang dijual,” jelasnya.

Kegiatan tersebut terdapat dua keuntungan bagi mereka. Yaitu, anak-anak mengendalikan kebersihan di sekolah dan mendapatkan hasil berupa uang untuk kas kelas. Dengan demikian, program ini memberikan manfaat yang nyata untuk siswa dan bagi sekolah. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?