Atasi kematian bayi dengan inovasi alat Nixie. | foto : Humas ITB

Inovasi

Selamatkan Kematian, Mahasiswa ITB Ciptakan Alat Pengukur Dehidrasi pada Bayi


Siedoo, Berdasarkan data riset kesehatan dasar nasional, satu dari tiga kematian pada bayi disebabkan karena diare dan dehidrasi berat. Sehingga, sangat penting adanya suatu bentuk monitoring dehidrasi pada bayi. Dengan demikian, dehidrasi dapat terdeteksi lebih dini dan mendapatkan penanganan yang tepat sebelum ia sampai pada level dehidrasi berat.

"Oleh karena itu alat ini kami hadirkan,” kata Novianti Rossalina (Desain Produk, 2015), salah satu mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat.

Ia bersama rekan - rekannya menciptakan alat khusus bernama Nixie. Tim tersebut terdiri atas Andre Subagja M. (Teknik Tenaga Listrik, 2018) sebagai ketua tim sekaligus penanggungjawab perakitan komponen dan pemrograman pada alat, Fathiya Rahma (Teknik Biomedis, 2016) mengkaji serta menerapkan konsep keilmuan biomedis pada alat, dan Novianti Rossalina (Desain Produk, 2015) sendiri bertugas mendesain alat serta sebagai pencetus awal ide pada alat yang mereka buat.

Alat tersebut memiliki daya guna tinggi karena dapat digunakan sebagai pengukur tingkat dehidrasi pada bayi. Tim Nixie, dibawah bimbingan Dr. dr. Yoke Saadia Irawan, M.T., selaku dosen pada Kelompok Keahlian Teknik Biomedis, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, tak jarang menghadapi berbagai kendala.

Novianti menjelaskan, kendala utama yang mereka hadapi adalah pengujian terhadap alat serta mencari pembanding untuk melihat akurasinya. Namun mereka mempunyai alternatif lain untuk melihat akurasi dari alat yang mereka buat dengan membandingkan tingkat dehidrasi yang ditunjukkan alat yang mereka buat, dengan jumlah produksi urine secara berkala pada manusia dewasa yang puasa.

Dalam hal ini, alat ini juga berhasil dan bekerja dengan baik menurut Novianti.

“Sebenarnya ide ini sudah muncul saat saya menjalani kuliah desain produk di semester 7, di mana salah satu matakuliah mengharuskan mahasiswa membuat suatu produk dengan teknologi," ungkap Novianti.

Namun akhirnya, Nixie dibuat dengan pendekatan keilmuan desain produk, namun masih sangat minim teknologi. Akhirnya, ide tersebut di-improve lewat PKM dengan berkolaborasi dengan anggota tim saat ini.

“Kita (Mahasiswa ITB) sebenarnya sudah punya sumber daya dan peluang yang sangat besar dalam hal kolaborasi antarjurusan. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan dengan dengan baik. Belum lagi secara umum mata kuliah di ITB akan memiliki output suatu karya," urainya.

Nixie, Tim ITB peraih 2 emas pada Pimnas ke-32 di Bali. | foto : Humas ITB

Menurut dia, PKM ini dapat dijadikan wadah dalam mengembangkan karya-karya tersebut menjadi karya yang tepat guna dan memberikan manfaat yang lebih luas. Sementara Tim delegasi dari Institut Teknologi Bandung ini berhasil meraih emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 tahun 2019 di Universitas Udayana, Bali, 27-31 Agustus 2019.

Total medali yang diperoleh ITB ialah empat emas dan satu perunggu. Dengan raihan tersebut, Pimnas tahun ini ITB meraih posisi 4 besar.

Tim Nixie merupakan salah satu tim yang berhasil menyumbangkan sebanyak dua emas, yakni satu emas untuk presentasi dan satu emas untuk poster. Novianti pun mengutarakan rasa senangnya atas prestasi timnya di Pimnas tahun ini.

Alhamdulillah, bisa mengikuti Pimnas tahun ini. Juga senang karena dengan mengikuti kegiatan ini bisa sekaligus membantu orang banyak dengan alat yang kami buat,” urainya.

Menurut Novianti, kerjasama dan pembagian kerja dalam tim menjadi salah satu kunci kesuksesaan dalam Pimnas ke-32. Proses mengikuti kegiatan Pimnas tersebut diawali dengan pengajuan proposal untuk PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) hingga akhirnya lolos pada tahap pendanaan dan dinyatakan layak mengikuti Pimnas ke-32. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang