Salah seorang guru tengah mengajar. (foto: antara.com)

Nasional

Kementerian Sorot Banyaknya Lulusan Guru yang Menganggur


JAKARTA - Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menyoroti banyaknya lulusan guru yang menganggur. Ini lantaran Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak membatasi jumlah mahasiswanya.

Calon mahasiswa yang gagal masuk perguruan tinggi pilihannya, terpaksa mendaftar LPTK hanya demi status meski tidak sesuai passion.

"Menjadi guru harusnya panggilan hati dan bukan karena pilihan ketiga atau keempat. Kalau bukan passion, guru yang dihasilkan mutunya jelek," ujarnya dilansir dari jpnn.com.

Dia pun menantang LPTK untuk berani membatasi jumlah mahasiswa yang masuk. Cara memperketat seleksi agar yang menjadi mahasiswa LPTK benar-benar orang terpilih. Dengan demikian guru yang dihasilkan juga berkompetisi tinggi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan, produksi guru dari LPTK tiap tahun terus bertambah. Padahal kebutuhan guru tidak sebanyak yang diproduksi. Akibatnya banyak lulusan LPTK yang menganggur atau memilih menjadi guru honorer.

"Suplai dan demand guru tidak imbang. Tiap tahun LPTK meluluskan 350 ribu guru. Sementara kebutuhan guru maksimal 150 ribu. Berarti ada kelebihan 200 ribu guru setiap tahunnya," katanya.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, LPTK sebagai pencetak guru dan tenaga kependidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM).

Karena itu, perguruan tinggi terutama LPTK harus bergerak cepat agar tidak tertinggal dari negara lain. Caranya, dengan menghadirkan perubahan atau inovasi pada kurikulum dan sistem pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

“Kita memerlukan sumbangsih pemikiran yang solutif, aplikatif, dan relevan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Sebab, dengan pendidikan lah masyarakat kita menjadi cerdas, unggul, berdaya saing, dan berkarakter,” kata Nasir dilansir dari beritasatu.com.

Nasir menyebutkan, LPTK memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama mulai dari kompetensi dan kualitas tenaga pendidik, sertifikasi tenaga pendidik, hingga inovasi pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0.

Pasalnya, setiap tahun seluruh LPTK di Indonesia baik negeri maupun swasta menghasilkan lebih kurang 300.000 lulusan. Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 120.000 orang saja yang terserap di sekolah dan lembaga pendidikan. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?