Ilustrasi, saat mahasiswa menggelar baksos bersama anak-anak di wilayah pelosok.

Daerah

Mahasiswa Siapkan Pendidikan Karakter di Lereng Sumbing


MAGELANG – Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di  Jateng – Yogyakarta hendak turun ke wilayah pelosok pegunungan. Mereka akan menggelar acara bakti sosial (baksos) di Lereng Sumbing, tepatnya SDN Sutopati V, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Seperti tahun – tahun sebelumnya, baksos kali ini dengan agenda utama membentuk pendidikan karakter bagi anak-anak.

Tujuan lain baksos ini yaitu membangun penerangan jalan dari kampung menuju sekolah, membangun sanitasi dan membersihkan lingkungan sekolah. Mereka yang mengikuti acara ini merupakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang tergabung dalam Forum Eksekutif Mahasiswa Teknik (Femat). Beberapa perwakilan mahasiswa yang akan ikut seperti dari UM Magelang, Untidar, UNWAHAS, UNISULA, UNDIP, UNNES, UNIMUS, UMS, UMY, UNY, UAD, UGM dan UMP. Sesuai rencana, acara akan dilangsungkan pada 11 – 13 November mendatang. Demi kelancaran baksos, tahapan demi tahapan acara tengah dipersiapkan para mahasiswa.

Wakil Gubernur BEM Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang Nurul Rahma mengatakan, lokasi yang relatif jauh dan akses kendaraan yang cukup sulit merupakan salah satu kendala para mahasiswa. Meski demikian, mereka akan berusaha sekuat tenaga demi kelancaran acara baksos tersebut. Ia berharap, nantinya ada kemudahan perijinan dari pihak – pihak terkait.

“Selain itu juga diharapkan ada perhatian dari sponsorship.  Selama ini sumber dana berasal dari uang yang dikumpulkan oleh para peserta baksos dan dari kas BEM,” katanya kemarin.

Ia berharap, dengan perhatian berbagai pihak, kedepan  kegiatan ini dapat terus berlangsung. Sehingga, dapat memunculkan perubahan kesadaraan bagi warga sekitar lokasi yang didatangi. Bahkan perubahan  juga dapat merambah kedesa-desa lain di sekitarnya.

Adapun tujuan lain yang lebih penting dari kegiatan ini agar pemerintah dapat melihat kenyataan. Di Pulau Jawa pun masih terdapat sekolah yang cukup jauh tertinggal dengan sekolah lainnya di perkotaan. Dengan demikian, diharapkan program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) dapat merata.

“Perlu proses yang panjang dan terus – menerus untuk memberi penyadaran agar masyarakat dapat merubah kebiasaan. Hal ini yang menjadi titik berat kami dalam pendidikan karakter,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?