Advertorial Inovasi

SMPN 3 Magelang Terapkan Metode Lain Belajar Matematika

MAGELANG – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Magelang, Jawa Tengah melakukan hal bervariatif dalam metode pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan gadget dan alat peraga permainan untuk pembelajaran Matematika.

“Saya mengajar pola bilangan yang ternyata penggunaannya bisa dengan menara hanoi yang menentukan langkah berikutnya,” kata Guru Matematika kelas VIII SMPN 3 Magelang, Kholida Agustin, S.Pd.

Penggunan menara hanoi difungsikan sebagai alat peraga agar anak-anak lebih dekat dengan matematika. Penggunaan alat peraga menara hanoi ini membuat perasaan siswa menjadi tidak tertekan saat belajar matematika.

“Itu hanya khusus untuk pola bilangan. Kalau saya, matematika itu, anak senang dulu. Sehingga, anak minatnya bagus dulu,” jelasnya.

Ia mengaku, ada perbedaan yang dirasakan dengan metode tersebut, yaitu tingkat remidi yang turun. Sementara itu, ia juga sering berkoordinasi dengan guru Matematika lain dalam hal metode pembelajaran Matematika, yaitu Sudarmono, S.Si guru yang menggunakan metode pemanfaatan gadget.

“Sempat dengan anak-anak itu saya coba untuk ulangan harian menggunakan bantuan google form. Saya buat soalnya dulu dan bisa diakses anak-anak, jadi pertemuan ke depan saya upload nilainya. Anak-anak bisa akses dari smartphone atau laptop, di warnet juga bisa,” jelas Sudarmono, S.Si.

“Saya dalam kondisi tertentu pakai itu (gadget) dan tidak seterusnya. Misal kelas kita bagi dalam beberapa kelompok, kita pakai Lembar Kerja Siswa (LKS) digital," urainya.

Jadi masing-masing anak membawa gadget, kemudian nanti anak diminta untuk download. Anak bisa memulai mengerjakan dan pada akhirnya nilai bisa langsung diketahui.

“Kelebihannya kalau LKS selama ini kan cetak tulisan saja, tapi kalau pakai gadget, kita bisa menggunakan video, suara dan model power point. Dalam penilaian, saya ingin menerapkan paper less atau tidak pakai kertas, tapi tidak semua anak mempunyai HP,” urainya.

Selama ini, dalam satu semester beberapa kali saat tes ulangan harian juga menggunakan gadget. Saatnya tes para siswa menggunakan aplikasi dalam smartphone.

“Kalau saya sistemnya tergantung dari berapa yang tidak punya smartphone. Saya pinjami atau saya bagi dua kelompok, soalnya kan acak meskipun dikerjakan bersama berbeda semua,” tandasnya.

Kelompok pertama yang sudah selesai, bisa meminjamkan kepada kelompok berikutnya yang tidak mempunyai smartphone. Memang, tuntutan Kuriukulum 13 siswa diharuskan aktif. Misalnya, guru memberikan lembar kerja ke siswa, melakukan praktek dan mencari cara untuk menemukan rumus dengan bimbingan guru.

“Kalau mengerjakan pakai online mereka dirumah, bahkan saya cek itu ada yang mengerjakan berkali-kali sampai 10 kali. Artinya, mereka seperti termotivasi harus dapat dengan hasil nilai yang langsung muncul,” ujarnya.

Metode pembelajaran ini didukung juga dengan komunikasi aktif antara guru dan siswa. Siswa pun dapat menghubungi langsung secara pribadi untuk menanyakan jika ada kesulitan dalam mengerjakan soal di rumah. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?