Advertorial Daerah

Tekad SMPN 1 Magelang Tingkatkan Budaya Mutu

MAGELANG –  Sebagai kategori Sekolah Rujukan, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Magelang, Jawa Tengah sangat tegas dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan. Salah satunya dengan budaya mutu sekolah yang akan berpengaruh pada sistem.

Mulai dari program personal individu, integritas guru, semangat guru dan motivasi guru. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh secara individu maupun kelembagaan di lingkungan sekolah.

“Budaya mutu mulai dari evaluasi diri di sekolah sampai menentukan visi misi dan tujuan itu harus selalu aktif. Kemudian bagaimana membuat konsep bahwa, semua guru dan siswa mengupayakan yang terbaik. Seperti mutu akademis, non - akademis atau mutu perilaku,” kata Kepala SPMN 1 Kota Magelang, Nurwiyono S.N, M.Pd.

Dalam kerangka peningkatan mutu itu harus dibuat sistem. Tidak mungkin dengan sendirinya dari personal bisa langsung seperti itu. Seperti halnya sekolah membuat budaya malu jika terlambat datang. Anak-anak masuk pada pukul 6.30 WIB, tapi jika nanti terlambat maka pintu gerbang akan ditutup.

“Saya komunikasikan kepada orang tua, ini menjamin mutu atau nantinya melatih anak-anak untuk displin” jelasnya.

Budaya lain ialah tentang integritas, kejujuran yang dibangun. Jadi, ketika anak tes harus mampu mandiri, guru masing-masing punya target secara akademis.

“Kemudian yang beda dari sekolah lain ialah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kita. Nilai anak tidak boleh kurang dari 81. Jadi kalau nilai hanya 78, 79 harus remidi,” tegasnya.

Hal tersebut tentu sudah melalui proses yang panjang. Program sudah digarap oleh guru dan melalui tahapan materi yang dianalisis oleh guru. Sehingga, anak dinilai mampu untuk menerapkannya.

“Jadi kalau hari biasa anak sudah dapat nilai 81. Ternyata ujian nasional anak kita rata-rata 92,4, peringkat satu di provinsi Jawa Tengah,” ungkapnya.

Metode belajar dari guru juga cukup bervariatif. Salah satunya dengan e-learning Cerdas, sebuah aplikasi milik SMPN 1 Kota Magelang.

“Jadi kami menekankan, memang guru harus mampu melaksanakan model pembelajaran sesuai dengan materi,” ujarnya.

Guru diwajibkan membuat dokumen kurikulum yang berisi perencanaan mengajar di setiap tahunnya. Dan setiap semesternya guru membuat perencanaan tersebut.

“Guru merancang materi dengan metode apa, nanti saya teliti. Misal guru ini mau mengajar dengan pakai LCD, mengajar tentang ASEAN tapi cara mengajarnya tidak dengan ceramah, tapi dengan apa. Ini namanya lesson plan, perencanaan guru dalam mengajar, ini berpengaruh pada proses,” tegasnya.

Sementara itu, supervisi dari kepala sekolah langsung ke kelas juga dilakukan untuk peninjauan dan penilaian. Pemantauan kelas dengan kamera CCTV juga dilakukan. Jika terdapat kelas yang kosong, maka akan segera didatangi guru.

Dengan sejumlah program yang ada ini, peran kontrol dari kepala sekolah luar biasa, mulai dari perencanaan dan penerapannya di kelas. Kemudian setelah supervisi, guru dipanggil untuk memberikan hasil evaluasi kepada guru.

“Untuk supervisi sifatnya membimbing guru, bukan menilai dalam arti kamu benar atau salah. Manakala yang diterapkan belum betul, kami bertugas untuk menyelaraskan. Tugas kepala sekolah ada tiga, manajerial, supervisi, entrepreneurship atau kewirausahaan,” tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?