dokter Moewardi, Bapak Pandu Indonesia. (grafis: jakarta45.wordpress.com)

Tokoh

Menilik Kiprah Dokter Moewardi, Bapak Pandu Indonesia

Iklan SMA Mutual

Siedoo, Setiap tanggal 14 Agustus bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka. Seperti kita ketahui, Pramuka merupakan sebuah gerakan kelanjutan dari Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang membubarkan diri pada masa pendudukan Jepang.

Selain kita mengenal Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia, kita juga memiliki Bapak Pandu Indonesia. Siapakah dia? Kita simak kiprahnya berikut ini.

Anak guru yang jadi dokter

Dokter Moewardi lahir 30 Januari 1907 di Randu Kuning, Pati, Jawa Tengah. Anak ke-7 keluarga Bapak Sastrowardoyo ini sejak kecil bercita-cita jadi dokter. Maka Moewardi kecil mulai sekolah di Jakenan, Pati, tempat ayahnya mengajar.

Berkat ketekunan belajar dan kecerdasannya, akhirnya Moewardi dipindahkan oleh ayahnya ke sekolah HIS (Hollandssch Inlandsche School atau Sekolah Belanda Pribumi).

Karena ingin melanjutkan ke sekolah kedokteran pribumi, STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandsche Artsen), maka Moewardi pindah ke ELS (Europeesche Lagere School) Kota Pati, dan lulus tahun 1921 dengan prestasi membanggakan.

Selanjutnya Moewardi masuk ke STOVIA Jakarta dan mendapat beasiswa. Tahun 1926 Moewardi tercatat sebagai mahasiswa tingkat III dan lulus sebagai dokter pribumi (Indische Arts) tahun 1933.

Aktif di organisasi pemuda dan kepanduan

Awalnya dokter Moewardi praktik sebagai dokter umum di Jalan Raden Saleh Jakarta, selanjutnya pindah ke Jalan Mampang No.7, Jakarta. Kemudian diberi tugas oleh pemerintah untuk membuka sekolah kedokteran di Rumah Sakit Jebres, Solo. Akhirnya terwujudlah Perguruan Tinggi Kedokteran di Solo tanggal 4 Maret 1946.

Saat menjadi mahasiswa, Moewardi aktif pula di organisasi kepemudaan. Pada tahun 1922 Moewardi bergabung dalam Jong Java dan menjadi pemimpin Majalah Jong Java, dan tahun 1925 menjadi Ketua Cabang Jong Java di Jakarta.

Ketika berlangsung Kongres Besar Pemoeda Indonesia 27-28 Oktober 1928, Moewardi pun aktif di acara bersejarah tersebut sebagai utusan dari Jong Java.

Gerakan pemuda-mahasiswa periode 1915-1930 tidak lepas dari gerakan kepanduan, yang diawali berdirinya Javaansche Padvinder Organisatie (JPO), Moewardi pun aktif di Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) sampai 1925. Kiprahnya di kepanduan sangat terkait dengan keputusan dimasukkannya kepanduan dalam pergerakan Jong Java pada Kongres Jong Java ke-5 di Solo tahun 1922.

Pada tanggal 28 Agustus 1926 turut mendirikan Jong Java Padvinderij (JJP) di Jakarta dengan pimpinan dokter Pirngadi. Karena pada November 1926 Pirngadi ditugaskan ke RSU Medan, maka Moewardi bertugas memegang tampuk pimpinan.

Pandu Indonesia sejati

Tahun 1929 Moewardi diserahi tugas sebagai pengurus pusat JJP, kemudian berdasarkan hasil Kongres Jong Java IX di Solo, JJP terpisah dari Jong Java dan berubah nama menjadi pandu Kebangsaan (PK).

Tanggal 15 Desember 1929, bersama organisasi kepanduan yang lain, PK mendirikan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), dan tahun 1931 Moewardi sebagai Komisaris Besar KBI. Namun karena kesibukannya kuliah di STOVIA, pada Jambore III KBI di Solo, Moewardi mengundurkan diri dari jabatan itu dan digantikan Abdulrachim dari Bandung.

Usai lulus dari STOVIA dan menjadi dokter, Moewardi tetap aktif di kepanduan. Hal itu dibuktikan ketika memimpin Jambore Nasional IV di Kaliurang, Yogyakarta tahun 1936.

Tahun 1939 All Indonesian Jambore diubah menjadi Perkemahan Kepandoean Oemoem (Perkino) dan Perkino I diselenggarakan tahun 1941. Meski Jepang melarang semua organisasi kepanduan, Moewardi dan kawan-kawannya tetap menggelar Perkino II di Jakarta, 6 Februari 1943.

Tanggal 12 September 1948, saat hendak melakukan operasi seorang pasien ke Rumah Sakit Jebres, dokter Moewardi dijemput oleh sejumlah orang menggunakan Jeep, dan sejak itulah Moewardi tidak pernah kembali, jazad atau makamnya pun tak diketahui hingga kini.

Kiprah dokter Moewardi di organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, kepanduan, kedokteran, hingga perjuangan dan pengabdiannya terhadap bangsa dan negara sangatlah besar. Maka melalui SK Presiden RI No. 190 Tahun 1964, dokter Moewardi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Dan rasanya tidak berlebihan bila disebut sebagai Bapak Pandu Indonesia. (*)

 

 

Disarikan oleh Redaksi Siedoo dari Buku ‘Mengenang 100 Tahun Dokter Moewardi’ tulisan dr. Rushdy Hoesein, M. Hum, Museum Sumpah Pemuda, 2007.

Apa Tanggapan Anda ?