Nasional

Kekurangan Siswa dalam PPDB, Regrouping Pilihan Terakhir

Siedoo, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi di tahun 2019 telah selesai. Kegiatan pembelajaran pun sudah dimulai. Namun, beberapa sekolah berikut ini masih kekurangan siswa. Bahkan sekolah tersebut di-regrouping atau digabungkan dengan sekolah lain.

Dilansir dari tribunnews.com, di wilayah Jawa Tengah di antaranya ada SD Negeri Kutayu 02 di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes. Di sekolah ini hanya memiliki 1 siswa baru. Bukan hanya siswa baru yang sedikit namun kelas 2-6 tidak lebih dari 10.

Untuk kelas 2 tidak ada siswa, kelas 3 ada 10 siswa, kelas 4 ada 10 siswa, kelas 5 ada 9 siswa, dan kelas 6 ada 10 siswa. Rencananya kelas 1 akan dititipkan di SDN Kutayu 3 yang berada di depan sekolahan.

Bukan hanya di SD N Kutayu 2 yang memiliki murid kurang dari 60 siswa, namun ada 13 SD di 11 Kecamatan di Kabupaten Brebes yang muridnya kurang dari 60 siswa.

Di Sukoharjo sudah melakukan penggabungan 18 SD sejak 2016 lalu. Penggabungan ini dilakukan karena para orang tua lebih memilih sekolah swasta sehingga menyebabkan terjadinya kekurangan siswa.

Sekolah yang di-regrouping tidak semata-mara hanya melihat peminat sedikit namun jarak dan jumlah sekolah di daerah itu.

"Penggabungan ini juga melihat jarak dan letak geografis wilayah. Untuk daerah pinggiran tetap dipertahankan, karena mobilitas sulit dan jaraknya berjauhan," ujar Kasi SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo, Budiyanti.

Melansir detik.com, bahwa 50 SMPN dan 2 SMKN di Wonogiri kekurangan siswa. SMKN 1 Pracimantoro mendapatkan kuota 324 dan kurang siswa sejumlah 20 siswa. SMKN 1 Giritonto mendapatkan kuota 288 dan masih kurang 41 siswa.

Sementara itu di Jawa Timur sejumlah 9 SD di Kota Mojokerto kekurangan siswa untuk tahun ajaran 2019/2020. SD Mentikan VI mendapatkan siswa baru hanya 9 siswa saja. Sekolah di beberapa tempat sudah dikomunikasikan untuk ada penggabungan sekolah.

"Kami sudah diskusi dengan Pak Wakil Wali Kota Mojokerto, apakah perlu mager sekolah. Yang sudah kita pikirkan yaitu SD di Kauman. Karena mulai jalan Brawijaya - kelurahan Kaumab ada sekitar 6 sekolah. Itu kami fikir tidak efektif, jadi kita perlu untuk mager sekolah." kata Kepala Disdik Kota Mojokerto, Amin Wachid dikutip dari sindonews.com.

Bukan hanya di daerah Mojokerto yang kekurangan siswa, di Jombang sejumlah 7 SD memiliki siswa kurang dari 10 siswa. SDN Sumberaji 11 hanya memiliki 2 siswa baru, SDN Jipurapah 2 hanya 3 siswa baru.

Lalu SDN Cupak memiliki 6 siswa baru, SD N Munungkerep 2 memiliki 9 murid baru, SDN Wonokerto 3 memiliki 4 siswa baru, SD N Pojok Klitih 3 memiliki 2 murid baru, bahkan SDN Pojok Klitih 2 tidak mendapatkan siswa baru.

Minimnya pendaftar  karena faktor geografis, jarak serta kondisi akses jalan antar perkampungan penduduk.

"Faktor geografisnya memang seperti itu. Ada yang dikelilingi hutan, ada yang jaraknya jauh dengan kampung lainnya." jelas Kepala Seksi Peserta Didik di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Moh Suyuti dikutip dari kompas.com.

Bukan hanya sekolah negeri yang kekurangan siswa namun sekolah swasta juga kekurangan siswa. Kekurangan siswa ini imbas dari PPDB.

"Iya masih ada. Di SMP PGRI 5 malah dapat 3 siswa. SMP Gatra 3 sama 3 siswa dan SMP Among dan SMP PGRI 17 dapat 4 siswa," kata Koordinator MUsyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Erwin Darmogo dilansir dari detik.com.

Di Kalimantan Selatan, ada 33 SD Negeri di Banjarmasin yang siswanya kurang dari 20 siswa.

"Meski 32 SDN tersebut tidak memenuhi SPMnya untuk kelas 1, namun kelas lainnya hingga kelas 6 masih mencapai 120 siswa. SPM itu merupakan standar ideal sebuah kelas." ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Agus Totok Daryanto melansir dari tribunnews.com. (*)

Apa Tanggapan Anda ?