Nasional

PTN Dinahkodai Rektor Asing Bukan Karena Pro Asing

JAKARTA -  Sebuah perguruan tinggi harus dipimpin oleh seseorang rektor. Indonesia memiliki banyak universitas baik negeri maupun swasta. Rektornya berasal dari dalam negeri.

Tahun ini Kemenristekdikti mewacanakan kembali perguruan tinggi negeri (PTN) akan dipimpin oleh rektor asing. Tahun 2016, wacana serupa pernah digulirkannya. Namun, banyak penolakan dari berbagai pihak sehingga tidak terlaksanakannya wacana rektor asing.

"Sekarang ramai lagi. Begini, perguruan tinggu kita itu jumlahnya 4.700, yang masuk daya saing dunia hanya tiga. Ngeri sekali Indonesia itu," kata Menrisetdikti, Mohamad Nasir dilansir dari www.pikiran-rakyat.com.

"Saat saya pertama jadi menteri, hanya ada dua PTN yang masuk kelas dunia, itu pun peringkat sekitar 400 PTN di Indonesia ini bangga di dalam negeri sendiri tapi tidak punya daya saing di luar negeri," tambahnya.

Dua PTN yang berbadan hukum akan dipimpin rektor asing pada tahun 2020. Rektor asing ini diharapkan membawa dampak positif untuk perguruan tinggi di Indonesia.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Ojat Darojat menyambut positif wacana ini. Menurutnya kehadiran rektor asing akan membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Sependapat dengan rektor UT, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) juga berpendapat wacana ini secara positif. Beberapa negara lain juga sudah menerapkan adanya rektor asing.

Contohnya Nanyang Technological University (NTU) Singapura yang dipimpin oleh rektor  Amerika Serikat keturunan India. Sebelumnya dipimpin rektor berasal dari Swedia. Kedua rektor ini membawa NTU ke posisi yang disegani dalam dunia pendidikan Internasional.

"Wacana rektor asing ini harus dapat disikapi dengan pikiran yang terbuka. Alih-alih menggunakan istilah inlander/pro asing, ada baiknya kita melihat potensi rektor asing jadi angin segar dalam dinamika pendidikan tinggi Indonesia. Mereka dapat berperan sebagai katalis untuk meningkatkan kualitas PT, terutama daru segi manajerial dan kualitas hasil penelitian," kata CIPS, Nadia Fairuza Azzahra mengutip dari wartaekonomi.co.id.

Pengisian jabatan rektor asing ini bukanlah suati jaminan sebuah PTS/PTN bakal mengalami kemajuan pesat.

Sebaiknya sistem kinerja universitas dalam negeri lebih utama dilakukan perbaikan secara bertahap mulai budaya kerja, peningkatan penelitian, metode pengajaran dan sebagainya dibandingkan mengimpor rektor asing.

Rektor UKSW Salatiga, Neil Semuel Rupidara dikutip dari tribunnews.com menyatakan dosen asing, rektor impor itu diakuinya memang mengakselerasi kemajuan ada peran mereka di sana.

"Universitas Teknologi Nanyang setahu saya juga demikian. Mereka mengimpor dosen dari MIT Amerika dan beberapa PT lain di China, hanya saja tidak selalu bisa jadi lulusan luar negeri saja. Jadi bukanlah sebuah solusi," katanya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?