Inovasi

Antisipasi Gempa, Mahasiswa UGM Pasang Shock di Fondasi Bangunan

Siedoo, Bencana gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu silam memunculkan keprihatinan tersendiri. Selain menelan banyak korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan berbagai bangunan roboh. Berangkat dari itu, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berpikir mencarikan sebuah solusi.

Dari hasil renungan muncullah ide terkait fondasi bangunan yang mengandung pegas. Inspirasi tersebut kemudian mengkombinasikan shock sebagai medium gerak osilasi pegas, yang telah banyak dipelajarinya pada mata kuliah seputar Mekanika.

"Ide kita adalah meletakkan mesin sederhana berupa pegas (shock breaker), di dalam fondasi. Untuk meredam goncangan," kata Yosi Kristiana, mahasiswa D3 Teknik Sipil UGM.

Yosi menciptakan inovasi itu bersama dua rekannya, Siti Zuliana dan Miftahussurur Rosyadi. Shock itu diletakkan di tempat yang tak lazim bagi masyarakat umum. Yaitu di dalam fondasi bangunan.

Shock tersebut justru menjadi langkah inovasi terobosan. Karena membuat fondasi bangunan dapat meminimalisir gempa, dan berbiaya sangat murah. Fondasi tersebut kemudian mereka juluki sebagai "Fondasi Spring Damper".

Walaupun mereka bertiga berasal dari Jawa Timur, bukan lokasi bencana gempa, namun ia merasa prihatin atas kerusakan infrastuktur dalam gempa bumi yang kerap memakan korban jiwa dalam jumlah besar.

"Analoginya seperti ini, jika motor dengan shock breaker dapat menahan beban manusia dan beban dari motor sendiri, bahkan kadang juga untuk mengangkut barang. Maka pondasi bangunan juga akan dapat diredam goncangan jika diberi shock breaker," ungkap Yosi.

Karena hanya mengkombinasikan pegas, fondasi spring damper ini merupakan fondasi mesin sederhana. Sehingga mudah diproduksi, dan membutuhkan biaya minim.

Kalkulasi Yosi dan kawan-kawan dari hasil praktik pada bangunan tipe 48, fondasi spring damper buatan mereka hanya membutuhkan biaya Rp 3 juta. Sangat murah dibanding teknologi tahan gempa lain yang melibatkan konstruksi struktur dengan bentuk tak lazim, maupun menggunakan material berbiaya tinggi.

Fondasi ini kemudian dapat menopang beragam bangunan sederhana. Mulai dari bangunan berdinding triplek hingga bata permanen. Termasuk atap dengan rangka kayu maupun baja ringan.

Fondasi ini ini dinilai sangat cocok untuk ketahanan bencana Indonesia, karena pembuatannya murah, caranya mudah, bahannya sederhana dan tidak susah. Begitupula penggunaannya.

"Fondasi tinggal ditanamkan pada kedalaman 50 sentimeter lalu bangunan didirikan seperti biasa," urai Yosi.

Terinspirasi "Shock breaker” motor, mahasiswa UGM rancang fondasi bangunan tahan gempa yang murah meriah.

Yosi dan kawan-kawan berharap Fondasi Spring Damper dapat menarik minat industri dan disosialisasikan di seluruh negeri. Untuk mewujudkan hal tersebut, Yosi hingga saat ini terus melakukan analisis, pertimbangan material, dan penyempurnaan lebih lanjut. Termasuk mengembangkan PKM tersebut agar mampu melaju dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 yang akan digelar di Universitas Udayana Bali.

Sudah Diujicobakan

Pada April 2019 lalu, Yosi dan kawan-kawan telah memperoleh dana hibah dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kementerian Ristekdikti. Mereka sedang berkolaborasi untuk menerapkan Spring Damper pada Hunian Transisi Menuju Permanen (Huntrap), yang diproduksi Fakultas Teknik UGM untuk korban gempa.

Pengujian struktur di laboratorium juga telah mereka lakukan dan telah menuai hasil positif. Data grafik dalam bentuk frekuensi dan perpindahan, menunjukkan adanya perbedaan signifikan ketika menggunakan Spring Damper dibanding pondasi pada umumnya.

Materialnya boleh sederhana. Tapi kekuatannya tidak sederhana dan siap menahan goncangan. Data hasil laboratorium menunjukkan penggunaan pondasi menghasilkan perpindahan (struktur) yang lebih kecil.

"Artinya lebih tahan goncangan, termasuk gempa," jelas Dosen Pembimbing Dr. Devi. (*)

Apa Tanggapan Anda ?