Nasional

Menag Pastikan Tak Akan Menghapus Mapel Agama

JAKARTA - Belakangan ini desas desus penghapusan mata pelajaran (mapel) agama menjadi perbincangan hangat di negeri ini. Meski begitu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim memastikan tidak akan menghapuskannya dari sekolah-sekolah.

Dinyatakan, agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengamalkan ajaran agama, hakikatnya adalah wujud dari pengamalan sebagai warga negara.

“Sebaliknya, dalam menunaikan kewajiban kita sebagai negara, hakikatnya adalah bentuk amalan dari ajaran agama yang kita anut,” ujar Lukman fin.co.id.

Ia menyangkal kabar bahwa sekolah pesantren akan dihapuskan dan diganti menjadi sekolah umum, apalagi berita bohong terkait penghapusan Kementerian Agama (Kemenag).

“Sama sekali tidak benar anggapan bahwa kalau Presiden Jokowi kembali melanjutkan masa jabatan untuk lima tahun ke depan, akan dihilangkan pelajaran agama, akan dihilangkan pesantren menjadi sekolah umum, apalagi akan dihapuskan Kementerian Agama. Itu sama sekali tidak benar,” jelasnya.

Wacana penghapusan pelajaran Agama di sekolah-sekolah umum kembali mencuat. Setelah adanya usulan dari praktisi pendidikan, pendiri Jababeka, Setyono Djuandi (SD) Darmono.

Darmono mengatakan, pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah. Namun belakangan, pernyataan tersebut diklarifikasinya.

Setelah pendapat SD Darmono tersebut mendapat sorotan banyak kalangan, Ardiyansyah Djafar dari Desk Komunikasi Jababeka, menyampaikan pernyataan secara tertulis.

Berikut pernyataannya seperti yang ditulis jpnn.com:

Beredar berita bahwa SD Darmono, pendiri Jababeka, menganjurkan Presiden Jokowi untuk mengeluarkan pelajaran agama dari sekolah. Kami tegaskan bahwa pendapat itu telah menimbulkan salah penafsiran. Untuk itu kami meluruskan.

Pertama, SD Darmono sangat peduli pada pendidikan karakter berbasis agama yang mempunyai akar kuat dan sudah mentradisi di Nusantara. Yang dia soroti dan prihatinkan adalah mengapa identitas agama ketika dikaitkan dengan politik malah mendorong munculnya konflik dan polarisasi sosial. Padahal semua agama mengajarkan persatuan dan akhlak mulia.

Kedua, Masuknya faham keagamaan yang ekstrim ke sekolah dan universitas mesti menjadi perhatian kita semua, karena hal ini merusak kesatuan dan harmoni sosial. Oleh karena itu, materi pembelajaran dan kualitas guru-gurunya perlu ditinjau ulang. Hendaknya pelajaran agama itu lebih menekankan character building dan kemajuan bangsa. Terlebih lagi Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius.

Ketiga, Jika pelajaran agama dalam aspek- aspeknya yang dianggap kurang, itu tanggungjawab setiap orangtua dan komunitas umat beragama, bisa dilengkapi di masjid, gereja atau vihara.

Keempat, Jadi, intinya bukan mengeluarkan pelajaran agama dari sekolah, tetapi sebuah koreksi dan renungan, apa yang salah dengan pendidikan agama kita di sekolah.

Buku Bringing Civilizations Together yang diluncurkan 4 Juli lalu penekanannya adalah pada pembentukan karakter demi kerukunan dan kemajuan bangsa.

Demikianlah semoga ralat ini menyelesaikan salah paham yang dialamatkan pada SD Darmono.

Ardiyansyah Djafar.

Desk Komunikasi Jababeka. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?