Tokoh

Raih Medali Emas, Jovan Bisa Masuk SMAN 1 Semarang dari Luar Zona

Siedoo, Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019, di antara jalurnya adalah jalur prestasi. Salah satu yang menggunakan jalur prestasi di luar zona adalah Jovan Fernando Putra Wiyono, asal Lingkungan Kolang Kaling RT 2 RW 2, Wujil Bergas Kabupaten Semarang.

Dia yang masuk di SMAN 1 Semarang, Jawa Tengah, merupakan atlet Wushu yang telah meraih medali emas di tingkat nasional dan pernah berlaga di kejuaraan dunia di Brazil.

“Dia telah berlatih sejak SD. Medali pertama yang dia raih saat kelas 1 SMP, meraih medali emas di tingkat provinsi,” ungkap Joko Wiyono, orangtua Jovan.

Joko merasa bersyukur anaknya bisa masuk ke SMAN 1 Semarang. Padahal jika menilik nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), nilai putranya hanya 19.

Joko sadar, sistem zonasi ini merupakan yang terbaik untuk pemerataan pendidikan.

“Kalau begini kan anak-anak bisa terpacu karena kemampuannya beragam. Kalau kumpul hanya satu kemampuan, yang bodoh semua, ya kapan anak-anak bisa pintar,” tandasnya.

Di SMAN 1 Semarang, total yang diterima sebanyak 432 siswa. Zonasi seleksi jarak sebanyak 259 siswa. Yang masuk menggunakan seleksi prestasi dalam zona sebanyak 86 siswa.

Sementara yang menggunakan jalur prestasi luar zona sebanyak 78 siswa dari kuota 65 siswa, mengingat siswa dari jalur pindah tugas orangtua hanya terisi sembilan siswa dari kuota 22 siswa.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan, dalam mendidik anak, wali murid dan guru mesti berkolaborasi memoles potensi siswa. Nilai ulangan bukanlah acuan dasar untuk pelabelan kecerdasan siswa.

“Tidak ada anak bodoh, tapi mungkin dia berbakat di bidang lain. Anak-anak mungkin tidak pintar di soal akademis, tapi dia pintar di seni olahraga dan sesuatu yang kreatif lainnya,” katanya saat di SMAN 1 Semarang, (15/7/2019).

Dipastikan, semua murid yang lolos masuk di SMA negeri, seperti SMAN 1 Semarang, hari ini masuk dengan perasaan gembira. Kemampuan mereka yang beragam, membuka kesempatan untuk belajar berkolaborasi.

“SMAN 1 Semarang ini menarik karena ada yang nilainya 17 dan bisa masuk, mereka bergabung dengan teman-teman lain dan ada diskusi. Itu nanti guru akan jadi fasilitator,” ujarnya.

“Kita ajarkan mulai dari sekarang bahwa kelas itu menyenangkan. Kalian punya hak belajar yang sama, dan kalian harus saling membantu,” tambahnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?