SMA Mutual Kota Magelang

Ilustrasi. (sumber: tribunnews.com)

Daerah

PPDB Online SMAN di Jateng, 4.693 Kursi Kosong, 446 Pengguna SKD Dicoret


SEMARANG – Total pendaftar pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online SMA Negeri (SMAN) di Jawa Tengah (Jateng) secara online mulai 1 Juli hingga penutupan 9 Juli 2019 mencapai 123.645 dari daya tampung 115.908. Namun yang terisi hanya 111.215. Artinya ini menyisakan kursi kosong sebanyak 4.693.

“Kursi kosong ya sudah kita biarkan. Karena memang tidak ada pendaftar. Kebanyakan, sekolah yang kursinya kosong itu berada di daerah pinggiran, semuanya di daerah kabupaten, tidak ada yang di kota,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dalam pelaksanaan PPDB tersebut, ada 446 pengguna Surat Keterangan Domisili (SKD) dicoret oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Dua siswa di antaranya mesti menelan pil pahit karena didiskualifikasi dari daftar siswa yang diterima.

444 SKD dicoret karena tidak sesuai fakta tempat tinggal. Oleh dinas, karena waktu pendaftaran masih dibuka mereka diarahkan agar kembali ke jalur yang benar.

“Tapi ada dua yang mesti kami diskualifikasi karena telah menggunakan SKD palsu. Jadi total pengguna SKD PPDB ini sebanyak 446,” kata pria berambut putih ini.

SKD dari dua siswa tersebut diketahui palsu di ambang waktu pengumuman. Salah satunya siswa dari Kendal. Ganjar menjelaskan terbongkarnya SKD palsu itu berkat pengakuan salah satu warga yang dipaksa membuat kesaksian palsu oleh oknum orangtua.

“Sebelum menyertakan SKD saat pendaftaran, orangtua ini telah mengondisikan warga setempat agar memberi kesaksian bahwa si A benar-benar tinggal di daerah yang dimaksud dalam SKD,” katanya.

Namun, pada Selasa (9/7/2019) siang salah satu warga memberi keterangan pada panitia PPDB sekolah bahwa keterangan yang dia berikan terkait SKD si A adalah palsu.

“Dia (si A) kami coret, dinyatakan tidak diterima,” katanya.

Baca Juga :  Mendikbud Minta Daerah Konsisten Terapkan Zonasi Sekolah

Meski didiskualifikasi, nama kedua siswa tersebut bakal tetap tercantum dalam daftar siswa yang diterima. Karena pada mulanya mereka memang diterima, namun di last minute akhirnya kebohongan itu terbongkar. Pihak sekolah pun, kata Ganjar telah memanggil yang bersangkutan dan mengakui perbuatannya.

“Meski namanya bakal ada, tapi kami sudah mem-blacklist namanya. Orangtuanya pun telah kami panggil dan telah membuat surat pernyataan,” katanya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?