SMA Mutual Kota Magelang

Mendikbud Muhadjir Effendy. (foto: merdeka.com)

Internasional

PISA Indonesia di Bawah Singapura, Pendidikan Harus Memiliki Standar Internasional


JAKARTA – Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang diperoleh Indonesia memang masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini menjadi perhatian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

“Selama ini kalau kita bicara tentang PISA di masyarakat, Indonesia berada di posisi paling bawah dibanding negara-negara tetangga seperti Singapura dan Vietnam. Hal itu menebar perasaan pesimis terhadap masa depan pendidikan Indonesia,” katanya.

Hal tersebut, katanya, diakibatkan oleh adanya disparitas antara Indonesia dengan negara lain tersebut sehingga harus ada perbedaan pendekatan yang diambil.

“Kualitas hasil dari tes PISA di antara negara-negara yang populasi siswanya yang kecil dibanding Indonesia yang populasinya besar, yang paling kontras itu perbandingan dengan Singapura yang berada pada papan yang paling tinggi, sedangkan kita di papan yang hampir paling bawah,” jelasnya.

Dipaparkan, Orang Indonesia yang awam hanya tahu hal itu saja. Mereka tidak tahu bila Singapura jumlah siswanya tidak sampai 2 juta. Sementara Indonesia punya 51 juta siswa.

“Ini yang diambil adalah sampel,” tandasnya.

Singapura, lanjutnya, merupakan negara yang bentuknya hanya kota. Sedangkan Indonesia merupakan negara kepulauan yang luar biasa, dimana disparitasnya juga luar biasa baik secara spasial maupun struktural.

“Spasial itu artinya karena wilayah, struktural karena kebijakan. Pemerintah juga hanya bisa melakukan intervensi pada batas-batas yang sangat tidak memungkinkan untuk meliputi ke semua yang ada,” jelas Mendikbud.

PISA adalah survei internasional tiga tahunan yang diselenggarakan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia dengan menguji keterampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun yang mendekati akhir dari pendidikan wajib mereka.

Baca Juga :  Inginkan Kiat Berprestasi, University of Malaya Kunjungi USU

PISA menilai seberapa baik mereka dapat menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah untuk situasi kehidupan nyata. Lebih dari 90 negara telah berpartisipasi dalam penilaian yang dimulai sejak tahun 2000 ini.

Setiap tiga tahun siswa diuji dalam mata pelajaran utama, yakni literasi, matematika dan sains. Standar yang dikeluarkan PISA menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pendidikan yang dipakai oleh berbagai negara.

Dilanjutkan Mendikbud, pendidikan Indonesia harus memiliki standar dan salah satu standar yang diharapkan adalah standar internasional.

Karena itu, jika Indonesia ingin menetapkan strategi internasional tidak mungkin tanpa memutuskan lembaga mana yang akan dijadikan mitra sebagai patokan.

“Kita sudah memutuskan bahwa PISA kita anggap cukup kredibel karena telah mendapat pengakuan yang sangat luas di dunia, maka kita menggunakan PISA untuk standarisasi internasional kita. Ujian Nasional kedepannya menggunakan standar internasional yaitu standar PISA. Kita bisa saja mengabaikan standar internasional tetapi nanti kita tidak tahu posisi kita dalam masyarakat internasional. Itulah manfaat dari kita bermitra dengan lembaga internasional yaitu untuk membangun indonesia kedepan,” pungkas Mendikbud.

Usai membuka seminar, dalam pernyataannya kepada awak media, Mendikbud mengatakan bahwa sekarang dalam sistem pendidikan di Indonesia sudah mulai dikenalkan standar PISA.

Hal ini ditunjukkan dengan adanya pertanyaan yang bersifat High Order Thinking Skills (HOTS). Selain itu, Mendikbud juga menyampaikan yaitu akan ada tes yang berkaitan dengan karakter atau disebut dengan social skill.

“OECD menyampaikan apresiasi, program pendidikan karakter yang kita selenggarakan dan sekarang menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan oleh mereka untuk nanti masuk ke dalam bagian dari tes PISA,” tutur Mendikbud.

Mengenai hasil tes PISA terdahulu dimana Indonesia masuk dalam papan bawah, Mendikbud menjelaskan bahwa hasil tes tersebut ditunjukkan pada tahun 2015 sedangkan PISA yang akan datang, belum diketahui hasilnya.

Baca Juga :  Bangganya Mahasiswa Ini, Mampu Wakili Indonesia Terjun di Ajang Internasional

“Hasil tes PISA itu sebelum pemerintahan sekarang. Nanti akan kita lihat hasilnya tahun ini seperti apa. Apakah sudah ada perubahan? Perubahannya naik atau turun? Kalau naik apakah signifikan atau tidak? Nanti terjawab bulan desember,” pungkas Mendikbud.

Direktur Pendidikan OECD, Andreas Schleicher mengatakan, PISA lebih memperhatikan aspek kognitif serta keterampilan sosio-emosional apa yang dibutuhkan kaum muda untuk menjadi sukses.

“Alasan mengapa semakin banyak negara tertarik adalah untuk mengambil bagian dalam PISA yaitu tentang apa yang seharusnya kita ajarkan dan bagaimana kita dapat mengajarkannya dengan cara terbaik,” ujarnya.

Dijelaskan Andreas, PISA telah melihat lebih dari sekedar perubahan keanggotaan dalam beberapa tahun terakhir.

“Tes ini juga telah berkembang untuk mengukur serangkaian keterampilan dan kompetensi yang lebih luas di luar standar literasi, matematika, dan sains. Tidak lupa juga ketika membuat kurikulum harus berorientasi kepada pelajar dan apa yang mereka butuhkan,” terangnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?