Nasional

FGD di UGM, Masalah Pendidikan Anak Transmigran Terpecahkan

YOGYAKARTA - Terdapat berbagai kendala yang dihadapi program transmigrasi, di antaranya persoalan konektivitas. Mulai dari prasarana transportasi hingga akses internet. Selain itu, salah satu hal yang kerap menjadi pertanyaan bagi mereka yang akan mengikuti transmigrasi adalah persoalan pendidikan.

Namun demikian, persoalan itu kini sudah ada solusinya. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) sudah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memikirkan secara bersama - sama, persoalan yang ada.

“Kami sudah ada MoU dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementerian Ristek Dikti untuk program khusus pengembangan SDM. Anak-anak transmigran bisa mendapat beasiswa untuk mereka kuliah dan setelah itu mereka kembali dan mengembangkan daerahnya,” kata Sekretaris Jenderal Kemendesa PDTT, Anwar Sanusi, Ph.D, di University Club UGM Yogyakarta.

Hal ini ia sampaikan di sela acara Focus Group Discussion (FGD) Perencanaan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi 4.0 yang terselenggara atas kerja sama antara Fakultas Geografi UGM dan Kemendesa PDTT. Anwar menyebut, FGD ini sebagai wujud kerja sama antara para akademisi dan birokrat untuk mencari solusi bagi persoalan yang ada di tengah masyarakat.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah, perlu dilandasi kajian komprehensif yang dihasilkan oleh akademisi yang kompeten di bidangnya.

“Respon pemerintah yang bentuknya kebijakan itu, ketika disampaikan kepada masyarakat bisa tidak nyambung. Karena, basisnya tidak didasarkan realitas empiris yang biasanya dihasilkan oleh dunia perguruan tinggi,” ungkapnya.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pun menargetkan bahwa, pengembangan 144 kawasan transmigrasi dalam 5 tahun ke depan. Seiring dengan perkembangan teknologi di era digital, Kementerian ini akan turut menerapkan teknologi sebagai bagian dari program transmigrasi dengan memperkenalkan konsep smart farming.

“Dengan adanya teknologi, kita memperkenalkan konsep smart farming,” urainya.

Program ini, telah mulai dijalankan di Sumba Timur, meski dalam ruang lingkup yang relatif kecil. Selain memperkenalkan teknologi pertanian modern, para petani juga didorong untuk memasarkan produk mereka secara daring agar mereka dapat menjual sendiri produk mereka dan mendapat penghasilan yang lebih tinggi.

Ia berharap, kegiatan ini akan meruntuhkan sekat-sekat antara dunia akademis dan birokratis. Birokrat menurutnya memerlukan pendampingan dari akademisi, dan di saat yang sama, akademisi perlu menerapkan hasil penelitian yang mereka lakukan agar tidak hanya dipampang di dalam jurnal. Tapi bisa diolah menjadi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.

Hal serupa disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Geografi UGM, Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc. Ia menuturkan, kegiatan FGD dapat membantu para akademisi untuk belajar mengomunikasikan keilmuan mereka dengan para praktisi serta memahami proses pengambilan kebijakan.

“Paling tidak penelitian yang kita lakukan bisa memberikan impak di dalam pengambilan kebijakan,” ujarnya.

FGD yang diselenggarakan untuk kali ketiga ini membahas perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi yang dapat mengakomodir kerja sama pentahelix. Antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat, dan media, untuk menumbuhkan pusat perekonomian baru di wilayah tujuan transmigrasi.

Topik ini masih berkaitan dengan topik yang dibahas di dalam FGD kedua, yaitu seputar pembangunan nasional yang berorientasi pada SDM dan pertumbuhan wilayah untuk menyelesaikan disparitas wilayah. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?