SMA Mutual Kota Magelang

Sutopo Purwo Nugroho. (foto: tabloidbintang.com)

Tokoh

Masa Menakutkan Bagi Sutopo, Mencari Universitas dan Pekerjaan


Siedoo, Nama Sutopo Purwo Nugroho cukup hangat di telinga kita. Terlebih saat viralnya “Tampang Boyolali” di saat masa-masa jelang Pilpres 2019. Kini pria yang menjabat sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah berpulang.

Ia yang dilahirkan pada 7 Oktober 1969 di Boyolali, Jawa Tengah, meninggal pada Minggu 7 Juli 2019 dalam usia 49 tahun. Sutopo meninggal di China saat menjalani pengobatan karena terjangkit kanker paru.

Di balik wajah yang murah senyum tersebut, dalam masa perjalanan hidupnya ada masa yang menakutkan.

“Ada 2 periode waktu yang menakutkan selama hidup saya yaitu mencari universitas setelah lulus SMA dan mencari pekerjaan setelah lulus S1,” tulisnya dalam akun instragramnya @sutupopurwo pada 26 Mei lalu.

Diakuinya, mencari universitas negeri tidak mudah. Dihapusnya jalur PMDK atau undangan saat itu. Hanya ada satu peluang yaitu test SIPENMARU atau SBMPTN saat ini.

“Saya hanya mengikuti satu test itu. Tidak berani mendaftar swasta karena beayanya mahal saat itu. Akhirnya diterima di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Ini pilihan ketiga. Itu pun kesasar karena salah informasi. Pilihan pertama Kedokteran Umum UGM dan kedua Manajemen UGM,” tambahnya.

Sutopo akhirnya lulus S1 dengan predikat cumlaude, tercepat, termuda. Menjadi mahasiswa teladan dan juara Lomba Karya Inovatif Produktif Tingkat Nasional.

“Lalu masuklah periode menakutkan kedua yaitu cari pekerjaan. Hampir tiap hari kirim lamaran. Total 32 surat lamaran via kantor pos,” lanjutnya.

Dari 32 lamaran:

– 2 dapat panggilan lalu test dan diterima, yaitu di BPPT dan PT Sumalindo Lestari Jaya.

– 2 dapat panggilan tapi test gagal yaitu Dosen Universitas Esa Unggul dan PT Garuda Indonesia.

Baca Juga :  Berprestasi dari Pukulan dan Tendangan

– 3 dapat surat balasan isinya ditolak yaitu:

  1. Dosen Fakultas Geografi UGM Yogyakarta
  2. Dosen Fakultas Geografi UMS Solo
  3. Dosen Perikanan IPB Bogor

– 25 tidak ada surat balasan dan tidak direspons.

Selama mencari pekerjaan, tidak semua perusahaan atau instansi besar yang ia lamar. Tapi perusahaan kecil bahkan konsultan pun dilamarnya.

“Selama mencari pekerjaan itu banyak yang hanya PHP, diajak kesana kemari tapi akhirnya tidak ada kejelasan, dijanjikan dan lainnya,” katanya.

Semua momen tersebut tercatat di block note 24 tahun yang lalu. Block note pemberiat temannya di UI yang ia pakai buat catatan penting dan diary.

“Jadi bagi anak-anak muda, Jangan putus asa. Salah milih jurusan atau belum dapat pekerjaan meski sudah banyak kirim lamaran. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita. Tuhan tidak langsung mengabulkan doa kita seketika. Untuk itu sabar dan terus berikhtiar. Kita tidak tahu masa depan kita. Tapi kita harus terus belajar, tekun, semangat, sabar dan berdoa,” pesannya panjang lebar.

Sutopo juga pernah mengalami patah semangat menyelesaikan skripsi. Lalu mengabaikan skripsi, dan akhirnya insaf untuk menyelesaikan.

“Saya pernah mengalami itu. Gara-gara data sulit diperoleh, gagal statistik multivariat, dan permintaan dosen pembimbing juga aneh. Menyalahkan tapi tidak memberi solusi,” ceritanya.

“Akhirnya skripsi saya tinggalkan dengan penuh kebingungan. Mau ganti tema juga nanggung. Berbulan-bulan penuh ketikpastian dan tak ada kemajuan,” lanjutnya.

Saat ditanya orangtua, “Kamu kapan wisuda? Jangan lama-lama kuliahnya karena biayanya mahal. Adikmu juga bayar SPPnya mahal. Apalagi adikmu kuliah di swasta lebih mahal.”

Selalu mengingat orangtua, selalu membangkitkan semangat belajar. Membayangkan betapa bahagianya orangtua hadir di tengah wisudaku.

Baca Juga :  Membanggakan Daerahnya, Inovator Temanggung Ini Ciptakan Produk Lokal Bernilai Global

“Jadi jangan patah semangat. Saat ada hambatan menyelesaikan skripsi. Ingst selalu orangtua. Bayangkan mereka hadir di tengah wisuda. Pasti bahagia,” pungkasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?