Daerah

Berbicara Handling Sitostatika, Upaya Meningkatkan Keahlian Mahasiswa

MAGELANG - Pentingnya penggunaan alat keselamatan kerja bagi para farmasis. Keselamatan adalah hal yang utama. Farmasis memiliki potensi terpapar cytotastic.

"Oleh karenanya penting memperhatikan alat keselamatan diri ketika bekerja. Seperti penggunaan masker, sarung pelindung, baju pelindung dan lain sebagainya agar terhindar dari resiko pemaparan sitostatika,” kata Setiyo Budi Santoso, M. Farm., Apt., Dosen Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang, Jawa Tengah.

Hal ini disampaikan saat workshop ‘Handling Sitostatika’ yang digelar D3 Farmasi Universitas Muhammadiyah Magelang di Aula Fakultas Ilmu Kesehatan Kampus 2 UM Magelang. Ketua panitia pelaksana, Fitriana Yuliastuti, M.Sc., Apt mengatakan, jika kegiatan tersebut diadakan untuk meningkatkan keahlian dan juga pemahaman mahasiswa dan tenaga kefarmasian mengenai prinsip-prinsip handling sitostatika dalam menangani pasien, baik di rumah sakit atau yang sedang rawat jalan.

Kegiatan yang diikuti 80 peserta, terdiri dari mahasiswa D3 tingkat akhir, baik reguler maupun pararel, tamu undangan dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota dan Kabupaten Magelang, Persatuan Ahli Farmasi (PAFI), Alumni, dan juga dari Rumah Sakit PKU Wonosobo dan Rumah Sakit Harapan Kota Magelang. Acara ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Fita Rahmawati, Sp.FRS Apt, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang menyampaikan materi mengenai Teknik Aseptic dalam penanganan sitostatika.

Menurut Fita, tujuan melibatkan farmasi pada aseptic dispensing adalah untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat yang diberikan secara injeksi.

“Karena dalam penanganan tersebut farmasis mengetahui fisika kimia obat, dosis, interaksi, dan kestabilan obat,” ujarnya.

Lebih lanjut Fita juga mengingatkan kepada farmasis untuk senantiasa menjaga kesterilan peralatan yang digunakan. Seperti, syringes, jarum, vial, dan juga ampul.

Sementara itu, Puguh Widiyanto, M.Kep, Dekan Fikes UM Magelang menyampaikan bahwa, jumlah penderita kanker di Indonesia diperkirakan semakin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2030 diperkirakan 27 juta orang akan terdiagnosis kanker, dan 70 persennya berada di negara berkembang seperti Indonesia.

Oleh karenanya, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi angka tersebut. Salah satunya  penggunaan sitostatika yang merupakan upaya pengobatan kanker yang sering digunakan dan banyak menunjukkan kemajuan dalam proses pengobatannya.

“Pemahaman mengenai sitostatika yang benar untuk menghindari berbagai macam efek menjadi bagian penting untuk mahasiswa dan praktisi yang bekerja di lapangan, yang sering bersinggungan langsung dengan penanganan sitostatika,” ujar dia.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi interaktif dan praktek terkait penanganan sitostatika yang dibagi dalam 3 sesi. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?