Daerah

Praktik Ibadah Juga Diimbangi Kepekaan Sosial

MAGELANG - Agama adalah jalan untuk mengentaskan kemiskinan. Seseorang tidak hanya harus sholeh secara spiritual tetapi juga secara sosial.

"Sehingga praktik ibadah itu harus juga diikuti dengan kepekaan dan kepedulian secara sosial,” kata Lovita Ivan dari Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah saat menyampaikan gagasannya mengenai Teologi Mustad’afin di Indonesia: Kajian Atas Teologi Muhammadiyah.

Ivan menyampaikan itu saat Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang) mengadakan Dialog Lintas Agama dengan tema ‘Teologi dan Ekonomi dalam Perspektif Lintas Agama’ di Rektorat Lantai 3 Kampus 2 UM Magelang.

Acara ini digelar tidak lepas dari kondisi bahwa, setelah reformasi 1998, wacana tentang keharmonisan kehidupan beragama dan keragaman di Indonesia menghadirkan banyak tantangan. Terutama dengan semakin berkembangnya sentimen lintas agama, banyak perspektif yang berbeda.

Pada tahun 2015, Unit Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah memetakan, setidaknya ada 9 wilayah di Jawa Tengah yang masuk dalam kategori daerah rawan konflik (zona merah) antar umat beragama. Salah satunya adalah Magelang. Berdasarkan kondisi tersebut, maka UM Magelang menggelar diskusi yang menghadirkan tokoh dari beberapa agama.

Empat pemateri sengaja didatangkan dalam kegiatan tersebut guna mendapatkan perspektif yang berbeda-beda mengenai tema yang diangkat. Yakni, Wahyu Utomo, Ketua Pemuda Lintas Agama (Pelita) Kabupaten Magelang yang menyampaikan mengenai Ekonomi dan Teologi dalam Perspektif Buddhisme.

Wahyu menjelaskan bahwa umat Budha memiliki empat patokan yaitu: Utthana Sampada (Rajin dan Semangat), Arakkha Sampada (Penuh Perhitungan), Kalyana-mitta (Sahabat yang baik), dan Samajivikata (Hidup Seimbang).

“Menurut umat Buddha, kekayaan bukanlah penghalang kemajuan batin. Justru sarana pendukung kebajikan untuk pencapaian cita-cita luhur,” terangnya.

Pemateri lainnya adalah Achmad Labib, Dosen STAIA Magelang. Sementara Nasitotul Jannah dari UM Magelang yang menjadi pemateri terakhir dalam kegiatan tersebut. Itoh, panggilan akrabnya menekankan bahwa sebagai umat beragama, harus memiliki toleransi khususnya dalam bidang muamalah.

"Dan hal tersebut dapat dikerjakan tidak hanya dengan sesama umat Islam tapi terbuka secara lintas agama," jelasnya.

Kegiatan yang juga diadakan sebagai bagian dari penelitian Dosen FAI yakni Nasitotul Janah, S.Ag., MSI, Eko Kurniasih Pratiwi, SEI., MSI, dan Fahmi Medias, SEI., MSI tersebut diikuti 50 peserta dari berbagai forum keagamaan di Kabupaten Magelang. Adapun tujuan dari diadakannya kegiatan tersebut, untuk memetakan sikap agama dalam menangkal isu radikalisme dan konflik atas nama agama.

Tujuan lainnya yaitu  meningkatkan rasa toleransi dan kerukunan umat beragama. Acara ditutup dengan tanya jawab yang berlangsung interaktif dan komunikatif. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?